Gangguan Kontak Mata Penderita Autis, Deteksi Dini dan Penyebabnya

image

Gangguan Kontak Mata Penderita Autis, Deteksi Dini dan Penyebabnya

Para peneliti melakukan percobaan pada bayi berusia 2-6 bulan. Peneliti mempertontonkan video yang memperlihatkan orang yang berperan sebagai pengasuhnya. Para peneliti juga memantau pergerakan mata bayi. Peneliti menemukan, bayi yang mengembangkan autisme di kemudian hari cenderung untuk menghindari tatapan mata dengan pengasuhnya. Oleh karenanya, mereka menyimpulkan, lamanya tatapan mata bisa menjadi indikator autisme.

Tertawa dan kontak mata bisa menjadi indikasi awal si kecil memiliki kelainan atau tidak. Hal ini terkait dengan perkembangan sosial dan kemandirian anak. Untuk itu perhatikan pola respons anak ketika Anda memberi rangsangan padanya. Kontak mata dan tertawa adalah respons awal yang bisa ditunjukkan oleh si kecil. Jika tidak ada kontak mata dan jarang tertawa, takutnya ini adalah gejala autis.

Tatapan bayi bisa menjadi indikator awal untuk mndeteksi gejala autis. Peneliti di Kennedy Krieger bekerjasama dengan rekan-rekan di University of Delaware, berusaha membuat penelitian yang menyelidiki tentang tatapan bayi. Dalam penelitian tersebut, peneliti membuat suatu pembelajaran sosial multi-stumulus, menempatkan bayi di kursi rancangan khusus dengan joystick (mainan gantung) yang terpasang dan mudah dijangkau, dan menaruh mainan musik terletak di sebelah kanan dan pengasuhnya (misalnya ibu) di sebelah kiri. Peneliti mengevaluasi seberapa cepat bayi belajar dengan joystick untuk mengaktifkan mainan musik dan bagaimana tingkat keterlibatan sosial bayi dengan pengasuhnya.

Tim peneliti menemukan bahwa bayi yang berisiko tinggi autisme akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mencari dan terlibat dengan pengasuhnya. Bayi akan lebih fokus pada rangsangan non-sosial. Hal ini menunjukkan adanya gangguan dalam pertumbuhan yang terkait dengan perhatian si bayi. Dalam perkembangannya, kondisi ini akan berkembang menjadi autisme. Dan sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi, akan terlihat tanda-tanda autisme lainnya. “Studi ini menunjukkan bahwa kelemahan tertentu pada anak, khususnya autis, sudah bisa dideteksi sejak anak berusia enam bulan (saat interaksi harusnya sudah terjadi.

Bayi dengan gangguan autis biasanya tidak berinteraksi sosial atau bergerak sendiri. Tetapi bayi autisme ini terkadang masih bisa merespons bila ibu atau pengasuhnya memberikan rangsangan, sehingga perbedaan halus ini dapat dengan mudah diabaikan oleh beberapa orangtua. Namun, penelitian ini tidak menunjukkan bukti adanya gangguan belajar pada bayi berisiko tinggi autisme. Baik bayi autisme ataupun tidak, keduanya mempelajari tugas multi-stimulus dengan tingkat yang sama.

Temuan ini menunjukkan bahwa seperti halnya anak autis yang lebih tua, bayi yang berisiko tinggi autisme masih dapat mengambil manfaat dari kuantitas pembelajaran atau rangsangan yang diberikan, sehingga menyebabkan efek sederhana dan memberi kesempatan untuk membantu perkembangannya. Bila sejak dini sudah diketahui bahwa bayi berisiko tinggi autisme, orangtua sebaiknya sering memberi rangsangan, baik secara sosial (interaksi dengan orangtua) atau non-sosial (menggunakan mainan). Hal ini bisa mengurangi risiko bayi mengembangkan autisme. Untuk menindaklanjuti studi, temuan ini akan segera diterbitkan pada Center for Autism and Related Disorders di Kennedy Krieger Institute.

Pada usia dua tahun, lama anak autis menatap mata pengasuhnya rata-rata setengah dari lama anak yang normal. Semakin dini autisme dideteksi, menurut mereka, semakin efektif penanganannya. Selanjutnya, dibutuhkan studi lanjutan untuk menentukan kemampuan melihat bayi dengan autisme saat mereka baru lahir. Sebelumnya, studi menunjukkan, deteksi dini autisme bisa dilakukan dengan mendengar suara tangisan bayi. Bayi yang memiliki tangisan dengan nada tinggi dan suara bervariasi diduga lebih berisiko tinggi menyandang autisme.

Penyebab

Anak-anak dengan autisme sering mengalami kesulitan melakukan kontak mata kepada lawan bicaranya. Sebuah penelitian baru menunjukkan hal ini mungkin disebabkan sebagian otaknya memproses informasi visual, bukannya murni defisit sosial. Penelitian menunjukkan anak-anak dengan autisme terdapat aktivitas di daerah yang lebih besar pada korteks otak ketika gambar ditempatkan di bidang visualnya. Peniliti berkeyakinan bahwa anak yang mengalami autis tidak dapat melakukan kontak mata, ini bukan merupakan suatu defisit sosial. Tapi itu mungkin menjadi hal yang lebih mendasar, berasal dari mengurangi kemampuan awal dalam hidup untuk mengontrol otot-otot yang mengatur gerakan mata.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati 22 anak-anak dengan autisme, dan 31 anak-anak tanpa gangguan tersebut. Para peneliti menggunakan pola kotak-kotak yang berjalan pada layar di depan anak-anak, sementara elektroda digunakan untuk mengukur aktivitas otak mereka. Para peneliti mencoba untuk menentukan berapa banyak daerah korteks didedikasikan untuk proses ini. Bagi kebanyakan orang, area yang lebih besar dari korteks didedikasikan untuk pusat dari bidang visual. Jika menempatkan ibu jari di depan lengan, hal ini tidak memakan sekitar 1 derajat ruang visual, dan otak memiliki sekitar 4 sentimeter persegi dari korteks yang dikhususkan untuk itu. Jika memindahkan ibu jari enam atau delapan inci ke kanan, sekarang hanya 1,5 milimeter persegi korteks yang diperlukan untuk itu.

Dalam studi tersebut, spektrum autisme menunjukan respons yang lebih besar pada korteks. Apa yang ditemukan peneliti mengngkapkan di lokasi perifer, anak-anak dengan gangguan spektrum autisme menunjukkan respons yang lebih besar di korteks,” katanya. Korteks menunjukan ruang untuk dialokasikan pada masing-masing bidang visual yang diatur dan berkembang di awal kehidupan. Anak-anak dengan autisme memiliki perbedaan mendasar dalam cara kerja korteks visual mereka. Neuron lainnya dikhususkan untuk memproses informasi yang ada.

Hal Ini diketahui bahwa anak-anak dengan autisme sering memiliki defisit dalam keterampilan motorik dan mungkin selama masa bayi meluas sehingga mengurangi kemampuan untuk mengontrol gerakan mata.Ketidakmampuan untuk mengontrol gerakan mata tentu tidak menyebabkan autisme. Bayi dengan autisme mungkin tidak dapat mengarahkan matanya tepat yang sasaran yang diinginkan sehingga kesulitan untuk langsung kontak mata dengan anak autisme. Anak autis bukan tidak berinteraksi sosial atau melepaskan diri dari kehidupannya, namun cara kerja sistemnya berbeda. Penelitian lebih lanjut diperlukan guna mengkonfirmasi kebenaran penelitian sebelumnya, dan juga harus menguji anak-anak autisme

www.klinikautis.com

photo

Provided By: SUSU FORMULA ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 0 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growup-clinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, KLINIK AUTIS ONLINE, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s