Tes IgG4 Yang Dikirim Ke Amerika Untuk Penderita Autism, Tidak Direkomendasikan Untuk Tes Alergi

image

Tes IgG4 Yang Dikirim Ke Amerika Untuk Penderita Autism, Tidak Direkomendasikan Untuk Tes Alergi

UNPROVEN TEST – ALTERNATIVE TEST : TES YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

  • SEBUAH KONTROVERSI PEMERIKSAAN TES BIORESONANSI DALAM DIAGNOSIS ALERGI
  • DIAGNOSIS Tes Alergi IgG4, Akuratkah ?
  • Pemeriksaan alergi dengan darah yang dikirim ke luar negeri biasanya Amerika Serikat seperti IgE4 adalah metoda diagnosis unproven dan “unorthodox” atau tak lazim dipakai dalam mendiagnosis alergi dan beberapa penyakit. Biasanya pemeriksaan ini digunakan oleh beberapa dokter untuk mencari penyebab alergi pada penderita gangguan perilaku khususnya Autism. Pemeriksaan ini digunakan tidak berdasarkan dasar ilmiah dan tidak terdapat data ilmiah bersifat penelitian terkontrol yang dapat membuktikan manfaat alat diagnosis ini. Bahkan ketika dengan darah yang sama diperiksa ke tiga tempat yang berbeda di Amerika hasilnya berbeda. Bukan hanya itu dalam waktu belum berselang 3 bulan pada penderita yang sama juga menunjukkan hasil yang berbeda. Berbagai Badan Alergi Internasional yang berkopeten terhadap permasalahan alergi tidak merekomendasikan tes ini. Bahkan di negara Amerika, FDA (Food Drug Administration) juga tidak merekomendasikan tes IgG4. Hal itu tampak  terdapat tulisan kecil dibawah halaman lembar hasil tes IgG4 yang bertulis “Not Approved by FDA”Meskipun tidak direkomendasikan tetapi masih saja banyak dokter yang mengirimkan tes tersebut ke Amerika atau ke luarnegeri lainnya.
  • Selain pemeriksaan IgG4 banyak diagnosis alternatif lainnya yang banyak digunakan adalah bioresonansi, terapi pendulum (bandul), cytotoxic testing, iridology, kinesiology, allergy testing, IgG antibody testing, VoiceBio, iriodologi mata, tes rambut, tes alcat, IgE4 dan sebagainya. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut juga banyak dilakukan oleh para klinisi untuk mendiagnosis penderita autism. Bukan hanya di Indonesia, pendekatan terapi alternatif tersebut juga banyak dilakukan di dunia internasional bahkan juga dilakukan oleh banyak dokter di luarnegeri. Sehingga berbagai institusi alergi international dan dunia tidak henti-hentinya selalu mengingatkan masyarakat maupun dokter bahwa semua pemeriksaan alternatif tersebut tidak direkomendasikan dalam mendiagnosis dan menangani penderita alergi.
  • Dalam hasil pemeriksaan tes alergi IgG4 dalam kolom paling bawah tertulis tulisan kecil “Not Aprrove by FDA (Food Drug Adminstration America)”. Artinyabtes tersebut tidak direkomendasikan dan disetujui oleh badan pengawasan kesehatan Amerika yang kredibel FDA.
  • Dalam beberapa kasus terdapat sebuah darah dengan sampel darah sama dikirim ke tiga tempat berbeda di Amerika menunjukkan hasil yang berbeda semua.
  • Saat dokter menerima hasil tes darah tersebut bertambah bingung karena seringkali hampir semua makanan terjadi alergi, sehingga timbulah diet rotasi, Pemberian diet yang diatur tiap seminggu. Meski makanan terseut penyebab alergi tetapi tetap diberi, karena diokter bingung bila banyak yang alergi makanan apalagi yang diberikan. Padahal bila makanan tersebut tersebut menjadi penyebab alergi, meski diberi tiap minggu tetapi memberi masalah pada penderita.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai terapi alternatif banyak bermunculan di Indonesia. Diantaranya adalah terapi lilin, terapi batu giok, terapi kalung, terapi magnetic, terapi bioresonansi dan tes darah IgG4 yang dikirim ke Amerika. Pada beberapa kasus penderita alergi khususnya penderita Autism sering dilakukan pemeriksaan alternatif IgG4. Sebagai alat terapi dan diagnosis alternatif, tentunya masih menjadi kontroversi. Meskipun sebagai terapi alternatif, tetapi tetap saja banyak dokter yang menggunakannya. Dokter dan klinisi yang memakai alat tersebut “mengklaim” bahwa alat ini dapat digunakan mencari penyebab alergi.

Alergi adalah penyakit konis dan berlangsung lama dan akan hilang timbul timbul sangat mengganggu. Alergi adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan, hirupan atau yang lainnya. Sebagai suatu penyakit kronis yang berkepanjangan, membuat para klinisi maupun penderita kadang frustasi. Akibatnya, banyak timbul terapi alternatif untuk mengatasi keluhan yang berkepanjangan tidak membaik. Meskipun ilmu dan tehnologi kedokteran sangat maju, tetapi ternyata tidak membuat penyakit alergi membaik, bahkan sebaliknya kasusnya semakin meningkat saja. Berbagai keluhan tubuh yang sering dikaitkan dengan gejala alergipun masih banyak diperdebatkan. Seperti migraine, kolik, konstipasi, gangguan perilaku dan sebagainya masih diperdebatkan apakah alergi makanan berkaitan dengan gejala tersebut. Tampaknya salah satu penyebab berbagai masalah kontroversi tersebut, sampai saat ini belum ada alat diagnosis yang dapat memastikan penyebab alergi kecuali secara klinis atau eliminasi provokasi. Selain belum jelasnya terungkap misteri alergi, juga didukung oleh tingginya kasus penderita alergi dalam masyarakat. Sehingga peluang bisnis ini dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menggunakan alat kesehatan komersial.

Spesifikasi Tes Alergi IgG4,

  • Tujuan: Diagnosis sensitivitas makanan / alergi.
  • Metode: Antibodi terhadap makanan diukur dengan menggunakan teknik laboratorium standar.
  • Tingkat Akurasi Ilmiah berdasarkan EBM (Evidance Base Medicine/ Penelitian Ilmiah berbasis Bukti) Bukti EBM : Tingkat II
  • IgG antibodi terhadap makanan biasanya juga terdeteksi pada pasien dewasa sehat dan anak-anak. Ternyata independen dari kehadiran tidak adanya gejala yang berhubungan dengan makanan. Tidak ada bukti kredibel bahwa mengukur antibodi IgG berguna untuk mendiagnosis alergi makanan atau intoleransi, atau bahwa antibodi IgG menimbulkan gejala. Bahkan, antibodi IgG mencerminkan paparan alergen tetapi tidak adanya penyakit. Pengecualian adalah bahwa antibodi IgG gliadin kadang-kadang berguna dalam memantau kepatuhan dengan bebas gluten pasien diet dengan penyakit celiac histologis dikonfirmasi. Jika tidak, penggunaan yang tidak tepat pengujian alergi makanan atau salah tafsir hasil)pada pasien dengan alergi inhalansia, misalnya, dapat menyebabkan pembatasan diet tidak tepat dan tidak perlu, dengan implikasi gizi khususnya pada anak-anak. Meskipun penelitian yang menunjukkan ketidakgunaan dari teknik ini, terus dipromosikan di masyarakat, bahkan untuk mendiagnosis gangguan yang tidak ada bukti adanya keterlibatan sistem kekebalan tubuh.

Tes serologisimmunoglobulin G4 (IgG4) terhadap makanan saat ini terus-menerus dipromosikan untuk diagnosis hipersensitivitas makanan. Karena banyak pasien percaya bahwa gejala mereka terkait dengan konsumsi makanan tanpa konfirmasi diagnostik hubungan kausal, tes untuk makanan tertentu IgG4 semakin banyak dilakukan. Pengujian untuk darah IgG4 terhadap makanan yang berbeda dilakukan dengan skala besar skrining untuk ratusan item makanan oleh enzim-linked Immunosorbent jenis uji-jenis dan radioallergosorbent tes pada anak, remaja dan orang dewasa. Namun, banyak sampel serum menunjukkan positif IgG4 menunjukkan gejala klinis yang tidak sesuai. Temuan ini, dikombinasikan dengan kurangnya bukti meyakinkan untuk melepaskan histamin-sifat IgG4 pada manusia, dan tidak adanya studi terkontrol pada nilai diagnostik IgG4 pengujian di alergi makanan, tidak memberikan dasar apapun untuk hipotesis bahwa makanan-spesifik IgG4 harus dikaitkan dengan peran efektor dalam hipersensitivitas makanan. Berbeda dengan keyakinan yang diperdebatkan, IgG4 terhadap makanan menunjukkan bahwa organisme telah berulang kali terkena komponen makanan, dikenal sebagai protein asing oleh sistem kekebalan tubuh. Keberadaannya tidak harus dianggap sebagai faktor yang menginduksi hipersensitivitas, melainkan sebagai indikator untuk toleransi imunologi, terkait dengan aktivitas sel T regulator. Sebagai kesimpulan, makanan khusus IgG4 tidak menunjukkan reaksi segera alergi makanan atau intoleransi, melainkan respon fisiologis dari sistem kekebalan tubuh setelah eksposisi untuk komponen makanan. Oleh karena itu, pengujian IgG4 terhadap makanan dianggap sebagai tidak relevan untuk up pekerjaan-laboratorium alergi makanan atau intoleransi dan tidak harus dilakukan pada kasus keluhan yang berhubungan dengan makanan.

Inilah Hasil Tes IgG4 Yang Dikirim Ke US Biotek Laboratories

Pada setiap halaman di bagian bawah hasil tes terdapat tulisan : This test has not been evaluated By The US Food and Drug Administration

  

Terapi medis atau terapi alternatif

Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ke ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis atapun secara biomolekular. Dalam penerpannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis.

Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan

Sedangkan terapi alternatif adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun sebenarnya tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur. Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis.

Terapi atau alat diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.

Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut.

Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti. Sering dilihat di televisi dalam acara terapi alternatif oleh seseorang bukan berlatar belakang nonmedis, bahwa pengakuan seorang sembuh karena terapi yang diberikan. Mungkin saja memang penderita tersebut berhasil dengan terapi alternatif tersebut, tetapi tidak diketahui apakah yang tidak berhasil juga lebih banyak lagi. Di bidang medis seorang dokter tidak boleh menyebutkan keberhasilan pengobatan berdasarkan kesaksian keberhasilan seorang pasien tetapi harus berdasarkan penelitian sebuah jurnal kesehatan yang kredibel atau jurnal yang dapat diakses di pubmed secara online.

Test IgG4 Bukan Berdasarkan Ilmuiah atau Sekedar Tes Alernatif ?

Dengan semakin pesat perkembangan tehnologi ternyata sangat menunjang perkembangan dalam bidang ilmu kedokteran telah membawa banyak perubahan dalam penatalaksanaan penanganan penyakit. Namun sayangnya, perkembangan tehnologi atau kecanggihan alat tehnologi di bidang kedokteran tersebut belum tentu menggambarkan keberhasilannya. Memang, banyak alat tehnologi canggih yang terbukti secara klinis dapat membantu pengobatan di bidang kedokteran seperti CT scan, MRI, ultrasound 4 dimensi dan sebagainya. Tetapi banyak alat canggih lainnya ternyata tidak terbukti secara klinis berperanan dalam bidang kedokteran.

Mengapa Tes Alergi IgG4 dianggap sebagai terapi alternatif ? IgG antibodi terhadap makanan biasanya juga terdeteksi pada pasien dewasa sehat dan anak-anak. Ternyata independen dari kehadiran tidak adanya gejala yang berhubungan dengan makanan. Tidak ada bukti kredibel bahwa mengukur antibodi IgG berguna untuk mendiagnosis alergi makanan atau intoleransi, atau bahwa antibodi IgG menimbulkan gejala. Bahkan, antibodi IgG mencerminkan paparan alergen tetapi tidak adanya penyakit. Pengecualian adalah bahwa antibodi IgG gliadin kadang-kadang berguna dalam memantau kepatuhan dengan bebas gluten pasien diet dengan penyakit celiac histologis dikonfirmasi. Jika tidak, penggunaan yang tidak tepat pengujian alergi makanan atau salah tafsir hasil)pada pasien dengan alergi inhalansia, misalnya, dapat menyebabkan pembatasan diet tidak tepat dan tidak perlu, dengan implikasi gizi khususnya pada anak-anak. Meskipun penelitian yang menunjukkan ketidakgunaan dari teknik ini, terus dipromosikan di masyarakat, bahkan untuk mendiagnosis gangguan yang tidak ada bukti adanya keterlibatan sistem kekebalan tubuh. Mekanisme penyakit alergi adalah adanya paparan awal, alergen dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya mengekspresikan pada sel-T. Sel-T tersensitisasi dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. Alergen yang intak diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan organ limfoid usus,yang pada anak atopi cenderung terbentuk IgE lebih banyak. Selanjutnya terjadi sensitisasi sel mast pada saluran cerna, saluran nafas dan kulit. Kombinasi alergen dengan IgE pada sel mast bisa terjadi pada IgE yang telah melekat pada sel mast atau komplek IgE-Alergen terjadi ketika IgE masih belum melekat pada sel mast atau IgE yang telah melekat pada sel mast diaktifasi oleh pasangan non spesifik, akan menimbulkan degranulasi mediator. Sehingga secara klinis, pengukuran petanda alergi hanya dengan menggunakan tes kulit atau IgE spesifik. Meskipun alat diagnosis ini belum memastikan penyebab alergi, karena harus dikonfirmasikan dengan tahapan eliminasi provokasi yang sebagai alat diagnosis baku emas (gold standard). Sedangkan pada pemeriksaan bioresonansi sebagai alat diagnosis tidak mengikuti kaidah imunopatofisiologis seperti tersebut di atas.

Dalam menilai keberhasilan terapi, biasanya dengan menilai pengalaman medis berbasis bukti. Yang paling mudah adalah mencari bukti penelitian yang diakui oleh komunitas kedokteran adalah jurnal-jurnal yang dimuat dalam Pubmed yang dapat diakses secara online. Sampai saat inipun dalam jurnal yang dimuat dalam pubmed tidak ada satupun penelitian yang mendukung keberhasilan alat diagnosis dan alat terapi bioresonansi. Memang mungkin terdapat beberapa kesaksian bahwa dengan penanga alat tersebut keluhan membaik, tetapi kita belum tahu apakah juga banyak penderita yang tidak berhasil. Keluhan penderita yang membaikpun, tampaknya juga dikarenakan penderita harus menghindari makanan tertentu yang dicurigai sebagai penyebab alergi. Yang menjadi masalah adalah akurasi alat tersebut. Seperti misalnya dikatakan dengan alat tersebut bahwa penderita mengalami alergi nasi. Kalau diagnosis tersebut tidak benar, alangkah malangnya seumur hidupnya penderita dilarang makan nasi.

Berdasarkan berbagai kajian ilmiah tersebut maka berbagai institusi alergi dunia dan internasional tidak merekomendasikan dan menolak dengan keras penggunaan IgG4 atau tes alergi yang bersifat unproven, unorthodox dan alternative lainnya sebagai alat diagnosis dan alat terapi pada penderita alergi. Institusi tersebut adalah ASCIA (The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy), WAO (World Allergy Organization), AAAI (The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology) dan berbagai institusi internasional lainnya. Secara faktual hal itu juga dapat dilihat bahwa pengguna alat bioresonansi bukan dokter yang ahli dan berkopeten di bidang alergi, seperti spesialis anak alergi atau spesialis penyakit dalam alergi. Tetapi digunakan oleh dokter atau klinisi diluar bidang tersebut seperti sebagian dokter umum, dokter penyakit dalam, dan sebagainya. Tampaknya sampai saat ini tidak ada satupun dokter spesialis alergi anak dan alergi dewasa yang menggunakan alat tersebut.

Berbahayakah diagnosis alternatif ?

Penggunaan terapi alternatif secara klinis masih belum dilakukan penelitian secara menyeluruh tentang manfaat dan efek sampingnya. Sehingga seringkali klinisi tidak bisa mengungkapkan kemungkinan bahaya penggunaan terapi alternatif. Bagaimana dengan terapi alternatif atau biresonansi berbahayakah ? Sampai saat inipun masih belum ada penelitian klinis yang dapat membuktikan efek samping dan bahaya alat tersebut. Kalaupun nantinya mungkin pendekatan terapi tersebut tidak menimbulkan efek samping tetapi ternyata membuat penanganan penyakit alergi semakin tidak jelas dan pemperburuk perjalanan penyakit dan timbulnya komplikasi dari penyakit yang tidak terkendali dengan baik. Bila melakukan penghindaran makanan berdasarkan tes tersebut maka bukan hanya mem[perbaiki tetapi tidak akan memberikan hasil dan perubahan berarti dalam penanganan penderita Autism. Bila hal itu terjadi maka akan menambah ketidakpercayaan bahwa makanan berpengaruh terhadap gangguan autism.

Hal yang lain yang dikawatirkan adalah penanganan alat terapi seperti ini akan membuat “lost cost therapy” biaya pengobatan terbuang percuma. Apalagi untuk terapi penyakit kronis biasanya dibutuhkan waktu pengobatan jangka panjang.

Sampai saat ini banyak sekali terapi alternatif yang digunakan oleh berbagai praktisi klinis dalam penanganan alergi. Selain Tes Alergi IgG4 terapi alternatif lainnya yang banyak digunakan adalah bioresonansi, terapi pendulum (bandul), cytotoxic testing, iridology, kinesiology, allergy testing, IgG antibody testing, VoiceBio, iriodologi mata, tes rambut, tes alcat, IgE4 dan sebagainya. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut juga banyak dilakukan oleh para klinisi untuk mendiagnosis penderita autism. Bukan hanya di Indonesia, pendekatan terapi alternatif tersebut juga banyak dilakukan di dunia internasional bahkan juga dilakukan oleh banyak dokter di luarnegeri. Sehingga berbagai institusi alergi international dan dunia tidak henti-hentinya selalu mengingatkan masyarakat maupun dokter bahwa semua pemeriksaan alternatif tersebut tidak direkomendasikan dalam mendiagnosis dan menangani penderita alergi.

END POINT :

  • Tes Alergi IgG4 tidak terbukti secara ilmiah manfaatnya sebagai alat diagnosis alergi
  • IgG4 termasuk tes alergi yang tidak terbukti secara ilmiah termasuk klasifikasi “unproven”, ”unorthodox” atau “alternative test” tidak direkomendasikan dan ditolak dengan keras oleh berbagai badan alergi internasional
  • FDA America (Food Drug Administration) juga tidak merekomendasikan tes IgG4, hal itu tampak  terdapat tulisan kecil dibawah halaman lembar hasil tes IgG4 yang bertulis “Not Approved by FDA”
  • Bila melakukan penghindaran makanan berdasarkan tes tersebut maka bukan hanya mem[perbaiki tetapi tidak akan memberikan hasil dan perubahan berarti dalam penanganan penderita Autism. Bila hal itu terjadi maka akan menambah ketidakpercayaan bahwa makanan berpengaruh terhadap gangguan autism.
  • Penanganan terbaik alergi adalah mengidentifikasi penyebab dan menghidarinya
  • Tes alergi yang sudah diakui di bidang kedokteran atau direkomendasikan karena terbukti secara ilmiah adalah tes kulit dan IgE RAST, meskipun demikian tes ini tidak bisa mendeteksi alergi makanan tipe lambat. Sedangkan untuk memastikan alergi makanan adalah dengan DBPCFC atau eliminasi provokasi (Food Chalenge Test)

REKOMENDASI DAFTAR PUSTAKA

  • Stapel SO, Asero R, Ballmer-Weber BK, Knol EF, Strobel S, Vieths S, Kleine-Tebbe J; EAACI Task Force.  Testing for IgG4 against foods is not recommended as a diagnostic tool: EAACI Task Force Report. Allergy. 2008 Jul;63(7):793-6. Epub  2008 May 16.
  • Unreliability of IgE/IgG4 antibody testing as a diagnostic tool in food intolerance. Jenkins M, Vickers A. Clin Exp Allergy. 1998 Dec;28(12):1526-9.
  • Laboratory tests for diagnosis of food allergy: advantages, disadvantages and future perspectives. Moneret-Vautrin DA, Kanny G, Frémont S. Eur Ann Allergy Clin Immunol. 2003 Apr;35(4):113-9. Review.
  • Food-specific IgG4 lack diagnostic value in adult patients with chronic urticaria and other suspected allergy skin symptoms. Antico A, Pagani M, Vescovi PP, Bonadonna P, Senna G. Int Arch Allergy Immunol. 2011;155(1):52-6. Epub 2010 Nov 26.
  • Time to reconsider the clinical value of immunoglobulin G4 to foods? Bernardi D, Borghesan F, Faggian D, Bianchi FC, Favero E, Billeri L, Plebani M. Clin Chem Lab Med. 2008;46(5):687-90.
  • High levels of IgG4 antibodies to foods during infancy are associated with tolerance to corresponding foods later in life. Tomicić S, Norrman G, Fälth-Magnusson K, Jenmalm MC, Devenney I, Böttcher MF. Pediatr Allergy Immunol. 2009 Feb;20(1):35-41. Epub 2008 Mar 12.
  • The IgE and IgG subclass antibody response to foods in babies during the first year of life and their relationship to feeding regimen and the development of food allergy. Kemeny DM, Price JF, Richardson V, Richards D, Lessof MH. J Allergy Clin Immunol. 1991 May;87(5):920-9.

DAFTAR PUSTAKA

  • Bernstein, I. L., Storms, W. W. (eds). The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology and the American College of Allergy, Asthma and Immunology. Practice parameters for allergy diagnostic testing. Joint Task Force on Practice Parameters for the Diagnosis and Treatment of Asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 1995; 75 (Pt 2): 543-625.
  • Barnes, R. M.  IgG and IgA antibodies to dietary antigens in food allergy and intolerance.” Clin Exp Allergy 1995; 25 (Suppl 1): 7-9.
  • Husby, S., F. Schultz Larsen, et al. IgG subclass antibodies to dietary antigens in atopic dermatitis.  Acta Derm Venereol Suppl (Stockh) 1989; 144: 88-92.
  • Johansson, S. G., A. Dannaeus, et al. The relevance of anti-food antibodies for the diagnosis of food allergy.  Ann Allergy 1984; 53: 665-72.
  • Dannaeus, A., S. G. Johansson, et al. Clinical and immunological aspects of food allergy in childhood. I. Estimation of IgG, IgA and IgE antibodies to food antigens in children with food allergy and atopic dermatitis.  Acta Paediatr Scand 1977; 66: 31-7.
  • Eysink, P. E., P. J. Bindels, et al. Do levels of immunoglobulin G antibodies to foods predict the development of immunoglobulin E antibodies to cat, dog and/or mite? Clin Exp Allergy 2002; 32: 556-62.
  • Merrett J, Burr ML, Merrett TG. A community survey of IgG4 Antibody levels. Clin Allergy 1983; 13: 397-407.
  • AAAAI Board of Directors. Measurement of specific and nonspecific IgG4 levels as diagnostic and prognostic tests for clinical allergy. J Allergy Clin Immunol 1995; 95:
  • W Atkinson 1,T A Sheldon 2,N Shaath 1and P J Whorwe . Food elimination based on IgG antibodies in irritable bowel syndrome: a randomised controlled trial. Gut 2004 53: 1459-1464

www.klinikautis.com

Provided By: KLINIK AUTIS ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, KLINIK AUTIS Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s