Terapi Konvensional, Inovatif dan Alternatif Penderita Autis

BANYAK TERAPI DAN PEMERIKSAAN YANG DIJALANI AUTISM, SEHINGGA ORANG TUA MENJADI BINGUNG

Dr Widodo Judarwanto pediatrician

ABSTRAK

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial. Mengingat demikian banyak dan luas teori penyebab autis maka terapi yang bisa diberikan sangat banyak dan bervariasi. Dalam penanganannya mutlak harus dilakukan secara holistik atau menyeluruh dengan melibatkan berbagai terapi sesuai kebutuhan penderita. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi autis dengan cara yang berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita.Secara umum pendekatan terapi autis dikelompokkan berdasarkan kajian ilmiah berbasis bukti, terapi medis murni kedokteran, gabungan terapi medis kedokteran tradisional atau terapi tradisional lainnya. Pembagian tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 bagian diantaranya adalah : terapi konvensional, terapi inovatif dan terapi alternatif.

PENDAHULUAN

Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autism kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belunm diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 -–200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.PENYEBAB AUTIS

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin.

MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. nEkolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan imik datar
Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh. Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.
Gangguan dalam bermain diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.
Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.
Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain
Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
Menegakkan diagnosis autis memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosis langsung autis. Diagnosis Autis hanyalah melalui diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

PENANGANAN UMUM AUTISM

Mengingat demikian luas teori penyebab autis maka penanganan atau terapi yang bisa diberikan sangat banyak dan bervariasi. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi autis berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti. Pada umumnya mereka melaporkan hasil yang baik, meskipun berbagai hasil penelitian tersebut perlu dikaji lebih jauh secara ilmiah. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita.
Secara umum pendekatan terapi autis dikelompokkan berdasarkan kajian ilmiah berbasis bukti, terapi medis murni kedokteran, gabungan terapi medis kedokteran dan tradisional atau terapi tradisional lainnya. Pembagian tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 bagian diantaranya adalah : terapi konvensional, terapi inovatif dan terapi alternatif.

TERAPI KONVENSIONAL

• TERAPI BIOMEDIS
o Detoxification for Heavy Metals
o Terapi Vitamin Dan Mineral
o Terapi enzimatik
o Terapi Jamur

• TERAPI OKUPASI

Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory integration (Ayres), snoezelen, terapi neurodevelopment (Bobath), modifukasi perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya
Kebutuhan dasar anak dengan gangguan perkembangan adalah sensori. Pada anak dengan gangguan perkembangan sensorinya mengalami gangguan dan tidak terintegrasi sensorinya. Sehingga pada anak dengan gangguan perkembangan perlu mendapatkan pengintegrasian sensori tersebut dengan terapi sensori integration. Sensori integration adalah pengorganisasian informasi melalui beberapa jenis sensori di anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasi, penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna. Beberapa jenis terapi sensori integration adalah memberikan stimulus vestibular, propioseptif dan taktil input. Menurunkan tactile defensivenes dan meningkatkan tactile discrimanation. Meningkatkan body awareness berhubungan dengan propioseptik dan kinestetik.
Selain sensory integration terapi sensori lain yang dikenbal dalam terapi gangguan perkembangan dan perilaku adalah Snoezelen. Snoezelen adalah sebuah aktifitas yang dirancang mempengaruhi system Susunan Saraf pusat melalui pemberian stimuli yang cukup pada system sensori primer seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau.Disamping itu juga melibatkan sensori internal seperti vestibular dan propioseptof untuk mencapai relaksasi atau akyivasi seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya
Neurodevelopment treatment (NDT) adalah terapi sensorimotor dalam menangani gangguan sensorim motor. Terapi NDT dipakai bertujuan untuk meningkatkan kualitas motorik penderita. Tehnik dalam terapi ini adalah untuk memfokuskan pada fungsi motorik utama dan kegiatan secara langsung.
Terapi gangguan perilaku dapat melalui pendekatan modifikasi perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan pada perubahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan sebagainya.
Intervensi DIR ((Developmental, Individual Differences, relation ship based) atau Floor Time merupakan Pendekatan pada anak dengan kebutuhan khusus yang dikembangkan oleh dr Stanley. Metode pendekatan yang bersahabat, hangat dan akrab untuk membangun hubungan anak sebagai individu untuk membantu memperbaiki proses perkembangan anak melalui bahasa tubuh, percakapan dan media bermain. Metode ini untuk mengerti dan memahami anak dan keluarga melalui proses identifikasi, sistematisasi dan integrasi dari perkembangan kapasitas perkembangan fungsional.
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi. Terapi bermain adalah proses terapi psikologik pada anak, dimana alat permainan menjadi sarana utama untuk mencapai tujuannya. Ada 3 macam alat permainan : alat permainan fantasi, alat permainan ketrampilan dan alat permainan edukatif. Alat permainan fantasi berupa benda yang umum dan digunakan dalam bentuk miniatur, seperti mobil, boneka, alat masak. Permainan ini digunakan dengan mengandalkan fantasi pada anak yang masih cukup dominan. Sedangkan alat permainan ketrampilan dapat berupa bersepeda, main bola, berenang memelerlukan kemampuan ketrampilam motorik. Pengguanaan alat permainan edukatif ini bisa digunakan sebagai evalausi kemampuan anak dan juga untuk terapi. Alat yang digunakan bisa berupa : puzzle (bongkar pasang gambar) , menyusun balok atau mencocokkan warna dan bentuk.

• TERAPI DITETIK

o Alergi Makanan
o Bebas Gluten dan Kasein
o Terapi ditetik lainnya

TERAPI INOVATIF

• TherapySecretin
• Pengobatan Oksigen Hiperbarik
• Fibroblast Growth Factor 2
• Terapi Live Cell and Stem Cell
• Terapi antibiotika
• Pengobatan Naltrexone (NTX)
• Pendekatan psikologi Intensif
• Terapi edukasi intensif
• Terapi IV Immunoglobuin
• EEG Bio-feedback
• Terapi bermain Play
• Terapi Somatik
TERAPI ALTERNATIF

• Traditional Chinese medicine
• Terapi bermain Play
• Terapi Musik, Terapi Lumba-lumba
• Terapi Akupuntur
BERBAGAI KONTROVERSI DAN CARA MENSIKAPINYA

Melihat demikian banyaknya cara terapi penderita autis, seringkali membuat bingung baik orang tua bahkan kalangan klinisi sendiri. Kontroversi seringkali timbUl karena beberapa peneliti mengklaim bahwa pendekatan terapi yang dilakukan paling efektif dan bermanfaat. Hal ini semakin membingungkan ketika para peneliti mengeluarkan berbagai teori penyebab yang sangat berbeda. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi dengan cara yang berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti. Sehingga banyak pihak dari berbagai disiplin ilmu merasa berhak dan berkompeten dalam mengobati penyakit Autism
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti tampaknya terapi konvensional secara ilmiah lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dibandingkan terapi inovatif dan tradisional lainnya. Sehingga cara terapi ini banyak digunakan oleh para klinisi dan orang tua. Tetapi hal ini tidak berarti terapi inovatif dan terapi alternatif lainnya secara klinis tidak bermanfaat. Di masa mendatang diperlukan penelitian yang lebih baik dan berstruktur untuk membuktikan bahwa terapi tersebut nantinya dapat dihandalkan.
Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kita harus bijak dalam mencermatinya. Bila kita tidak cermat maka waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pemberian terapi sangat besar. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita. Selain kecermatan, juga dibutuhkan pengalaman dan kompetensi profesionalitas sesuai bidang ilmu yang dimiliki dalam penanganan kelainan yang menyertai. Harus melibatkan disiplin ilmu minat gastroenterologi anak, alergi anak, neurologi anak, endokrinologi anak dan sebagainya Beberapa contoh kasus misalnya seorang yang tidak mengalami alergi makanan dilakukan pendekatan eliminasi makanan alergi meskipun hal tersebut berdasarkan tes alergi. Contoh lainnya seseorang yang tidak mengalami intoleransi terhadap gluten dan kasein tetapi dilakukan eliminasi terhadap makanan tersebut.
Cara termudah yang mungkin bisa diikuti adalah apabila setelah melakukan jenis terapi tertentu penderita mengalami perbaikkan yang bermakna. Sebaiknya kita harus mempercayai fakta tersebut meskipun terapi tersebut masih menjadi kontroversi. Sebaliknya meskipun pendekatan terapi tersebut telah terbukti secara ilmiah baik, tetapi saat diberikan terhadap penderita tidak menunjukkan hasil yang berarti maka jangan dipaksakan untuk meneruskan terapi tersebut. Kemungkinan kelainan yang dialami oleh penderita tidak sesuai dengan strategi terapi yang diberikan. Jangan terlalu terburu-buru dalam menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan terapi. Diperlukan konsultasi ulang kepada dokter yang merawat paling banyak dua atau tiga kali pertemuan untuk mengevaluasi hasilnya. Bila dalam dua atau tiga kali pertemuan konsultasi tidak terdapat kemajuan, mungkin harus dicermati terapi yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan penderita.
Harus diperhatikan dalam penanganan penderita Autis hendaknya dilakukan secara holistik atau menyeluruh dengan melibatkan beberapa dokter atau klinisi dari beberbagai disiplin ilmu sesuai dengan gangguan yang ada. Semua gangguan organ tubuh atau gangguan perilaku yang ada harus diperbaiki secara bersamaan. Misalnya, penderita Autis dengan gangguan persepsi sensoris dan gangguan saluran cerna. Telah dilakukan perbaikkan gangguan persepsi sensorisnya dengan terapi okupasi sensori integration. Tetapi perbaikan gangguan saluran cernanya,dengan mencermati jenis makanan yang dikonsumsi seperti alergi makanan atau gluten tidak dilakukan atau sebaliknya. Seringkali terjadi bila satu terapi dilakukan ada perbaikkan, orang tua tidak memperhatikan gangguan lainnya. Keadaan ini menjadi rumit, ketika dokter atau terapis sudah merasa yakin bahwa terapi yang diberikan merupakan satu-satunya terapi yang terbaik bagi penderita autis. Hal ini mengakibatkan perbaikan gangguan perilaku pada autis tersebut tidak optimal.

PENUTUP

Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial, sehingga demikian luas teori penyebab autis. Maka tidak heran bila terapi yang bisa diberikan sangat banyak dan bervariasi. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita. Pendekatan terapi harus dilakukan holistic atau menyeluruh dengan melibatkan berbagai dislin ilmu.
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti tampaknya bebnerapa terapi konvensional secara ilmiah lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dibandingkan terapi inovatif dan tradisional lainnya. Tetapi hal ini tidak berarti terapi inovatif dan terapi alternatif lainnya secara klinis tidak bermanfaat. Di masa mendatang diperlukan penelitian yang lebih baik dan berstruktur untuk membuktikan bahwa terapi tersebut nantinya memang dapat dihandalkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities. Technical Report : The Pediatrician’s Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics !107 : 5, May 2001) 2. Anderson S, Romanczyk R: Early intervention for young children with autism: A continuum-based behavioral models. JASH 1999; 24: 162-173. 3. APA: Diagnostic and statistic manual of mental disorders. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 1994. 4. Bettelheim B: The Empty Fortress: Infantile Autism and the Birth of the Self. New York, NY: Free Press; 1977. 5. Brett EM: Paediatric Neurology. 2nd ed. London: Churchill Livingstone; 1991. 6. British Medical Journal: Childhood autism and related conditions. Br Med J 1980 Sep 20; 281(6243): 761-2[Medline]. 7. Buka SL, Tsuang MT, Lipsitt LP: Pregnancy/delivery complications and psychiatric diagnosis. A prospective study. Arch Gen Psychiatry 1993 Feb; 50(2): 151-6[Medline]. 8. Burd L, Kerbeshian J: Psychogenic and neurodevelopmental factors in autism. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1988 Mar; 27(2): 252-3[Medline]. 9. Burd L, Severud R, Kerbeshian J, Klug MG: Prenatal and perinatal risk factors for autism. J Perinat Med 1999; 27(6): 441-50[Medline]. 10. Cohen DJ, Volkmar FR: Handbood of Autism and Pervasive Developmental Disorders. NY: Wiley; 1996. 11. Horvath K, Papadimitriou JC, Rabsztyn A, et al: Gastrointestinal abnormalities in children with autistic disorder. J Pediatr 1999 Nov; 135(5): 559-63[Medline]. 12. Hoshino Y, Yashima Y, Tachibana R, et al: Sex chromosome abnormalities in autistic children–long Y chromosome. Fukushima J Med Sci 1979; 26(1-2): 31-42[Medline]. 13. Hutt SJ, Hutt C, Lee D, Dunstead C: A behavioural and electroencephalographic study of autistic children. J Psychiatr Res 1965 Oct; 3(3): 181-97[Medline]. 14. Johnson MH, Siddons F, Frith U, Morton J: Can autism be predicted on the basis of infant screening tests? Dev Med Child Neurol 1992 Apr; 34(4): 316-20[Medline]. 15. Lainhart JE, Piven J: Diagnosis, treatment, and neurobiology of autism in children. Curr Opin Pediatr 1995 Aug; 7(4): 392-400[Medline]. 16. Lamb JA, Moore J, Bailey A: Autism: recent molecular genetic advances. Hum Mol Genet 2000 Apr 12; 9(6): 861-8[Medline]. 17. Lovaas I: The Autistic Child: Language Development through Behavior Modification. NY: Irvington Press; 1977. 18. Lovaas OI, Koegel RL, Schreibman L: Stimulus overselectivity in autism: a review of research. Psychol Bull 1979 Nov; 86(6): 1236-54[Medline]. 19. Martineau J, Barthelemy C, Garreau B, Lelord G: Vitamin B6, magnesium, and combined B6-Mg: therapeutic effects in childhood autism. Biol Psychiatry 1985 May; 20(5): 467-78[Medline]. 20. Poustka F, Lisch S, Ruhl D, et al: The standardized diagnosis of autism, Autism Diagnostic Interview- Revised: interrater reliability of the German form of the interview. Psychopathology 1996; 29(3): 145-53[Medline]. 21. Prior MR, Tress B, Hoffman WL, Boldt D: Computed tomographic study of children with classic autism. Arch Neurol 1984 May; 41(5): 482-4[Medline]. 22. Singer HS: Pediatric movement disorders: new developments. Mov Disord 1998; 13 (Suppl 2): 17. 23. Skjeldal OH, Sponheim E, Ganes T, et al: Childhood autism: the need for physical investigations. Brain Dev 1998 Jun; 20(4): 227-33[Medline]. 24. Stern JS, Robertson MM: Tics associated with autistic and pervasive developmental disorders. Neurol Clin 1997 May; 15(2): 345-55[Medline]. 25. Taylor B, Miller E, Farrington CP, et al: Autism and measles, mumps, and rubella vaccine: no epidemiological evidence for a causal association. Lancet 1999 Jun 12; 353(9169): 2026-9[Medline]. 26. Teitelbaum P, Teitelbaum O, Nye J, et al: Movement analysis in infancy may be useful for early diagnosis of autism. Proc Natl Acad Sci U S A 1998 Nov 10; 95(23): 13982-7[Medline]. 27. Volkmar FR: DSM-IV in progress. Autism and the pervasive developmental disorders. Hosp Community Psychiatry 1991 Jan; 42(1): 33-5[Medline]. 28. Volkmar FR, Cicchetti DV, Dykens E, et al: An evaluation of the Autism Behavior Checklist. J Autism Dev Disord 1988 Mar; 18(1): 81-97[Medline]. 29. Volkmar FR, Cohen DJ: Neurobiologic aspects of autism. N Engl J Med 1988 May 26; 318(21): 1390-2[Medline]. 30. Vostanis P, Smith B, Chung MC, Corbett J: Early detection of childhood autism: a review of screening instruments and rating scales. Child Care Health Dev 1994 May-Jun; 20(3): 165-77[Medline]. 31. Vostanis P, Nicholls J, Harrington R: Maternal expressed emotion in conduct and emotional disorders of childhood. J Child Psychol Psychiatry 1994 Feb; 35(2): 365-76[Medline]. 32. Vrono MS, Bashina VM: [Problem of adaptation of patients with the syndrome of early childhood autism]. Zh Nevropatol Psikhiatr Im S S Korsakova 1987; 87(10): 1511-6[Medline]. 33. Werner E, Dawson G, Osterling J, Dinno N: Brief report: Recognition of autism spectrum disorder before one year of age: a retrospective study based on home videotapes. J Autism Dev Disord 2000 Apr; 30(2): 157-62[Medline]. 34. Wilkerson DS, Volpe AG, Dean RS, Titus JB. Perinatal complications as predictors of infantile autism. Int J Neurosci 2002 Sep;112(9):1085-98 35. Wolraich M, Bzostek B, Neu RL, Gardner LI: Lack of chromosome aberrations in autism. N Engl J Med 1970 Nov 26; 283(22): 1231[Medline]. 36. Yirmiya N, Sigman M, Freeman BJ: Comparison between diagnostic instruments for identifying high- functioning children with autism. J Autism Dev Disord 1994 Jun; 24(3): 281-91[Medline]. 37. Zeanah CH, Davis S, Silverman M: The question of autism in an atypical infant. Am J Psychother 1988 Jan; 42(1): 135-50[Medline]. 38. Zwaigenbaum L, Szatmari P, Jones MB: Decreased obstetric optimality in autism is a function of genetic liability to the broader autism phenotype. J Dev Behav Pediatr 1999; 20 (5): 398-399

www.klinikautis.com

photo

Provided By: KLINIK AUTIS ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 0 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growup-clinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, KLINIK AUTIS ONLINE, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s