Arsip Kategori: autism-alergi makanan

Autism dan Alergi Hipersensitifitas Makanan, Kontroversi Terbesar di Kalangan Awam dan Medis

Autism dan Alergi Hipersensitifitas Makanan, Kontroversi Terbesar di Kalangan Awam dan Medis
Highlight Kontroversi Autism dan Alergi Makanan

Banyak timbul kontroversi perbedaan pendapat yang tajam antara orang awam dalam lingkungan keluarga dan klinisi atau dokter di kalangan medis. Bahkan pakar Autism di indonesia dan di duniapun berbeda pendapat tentang hal itu. Kontroversi terjadi karena sulitnya mencari Penyebab Alergi
Benarkah Aku dan anakku tidak Alergi makanan ? Memastikan penyebab alergi makanan harus dengan chalenge tes atau eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi.

Case Preview

Sepasang orangtua penderita Autism semakin bingung dalam menangani gangguan anaknya. Sangat bingung karena berbagai pendapat dokter seringkali berbeda, banyaknya pemeriksaan yang harus dilakukan, banyak vitamin atau obat yang diberikan dan terapi yang ditawarkan sangat banyak dan semua mengatakan bermanfaat dan bisa menyembuhkan autism. Karena bingung akhirnya melakukan second opinion kepada dua ahli Autism terkemuka di Indonesia ternyata menjadi lebih bingung lagi karena pendapatnya secara ekstrim berbeda. Satu ahli menyatakan boleh bebas makanan segalanya tetapi ahli lainnya merekomendasikan pantangan makanan berdasarkan tes alergi yang dikirim ke Amerika. Akhirnya orangtua melakukan diet eliminasi provokasi berdasarkan rekomendasi dokter lainnya. Ternyata bukan hanya orangtua , pihak terapispun kagum dengan perkembangan anaknya. Meski sudah diterapi selama 9 bulan dalam 3 minggu terakir ini perkembangannya sangat pesat, walaupun belum membaik secara sempurna.

Latar Belakang

  • Banyak kasus penderita Autism dan sekaligus penderita alergi sering frustasi karena hilang timbulnya keluhan dan tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Sehingga berbagai dokter telah dikunjungi namun seringkali semakin bingung karena pendapat berbagai dokter tersebut tidak ada yang sama. Seorang dokter mengatakan makanan tidak berkaitan dengan berbagai gejala autism. Tetapi kelompok dokter lain mengatakan bahwa makanan berperanan dengan gangguan yang ada. Sementara itu dokter lain menyatakan pasiennya alergi susu sapi, sedangkan dokter berikutnya yang dikunjungi menyatakan bahwa dia tidak alergi susu sapi. Hal ini wajar terjadi dalam praktek sehari-hari karena sumber kontroversi tersebut sampai saat ini adalah kesulitan penentuan diagnosis alergi makanan dan banyak faktor pemicu yang berpengaruh. Dasar kesulitan dan kontroversi itu adalah untuk memastikan makanan sebagai penyebab alergi adalah dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bukan hanya perbedaan pendapat antara klinisi, hasil penelitian tentang alergi makanan berkaitan dengan manifestasi berbagai organpun seringkali tidak sama karena sebagian peneliti mengandalkan diagnosis bukan dengan diagnosis klinis tetapi dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bila kesalahan dasar ini terjadi maka perbedaan pendapat dan kontroversi tersebut akan terjadi semakin besar dalam penanganan berbagai kasus alergi.
  • Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi tampaknya dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak dan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hiperaktif (ADHD) hingga memperberat gejala Autisme.
  • Dasar perbedaan pendapat tersebut adalah kesulitan untuk memastikan penyebab alergi. Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Grow Up Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Karena kesulitan tersebut maka dalam berbagai penelitian dan penanganan klinis banyak timbul berbagai tes dan pemeriksaan al;ergi yang akurasinya tidak terlalu baik atau sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik.

Ilustrasi Kasus Kontroversi Autism dan alergi di kalangan awam dan medis:

  • Seorang pakar Autis terkenal di Indonesia menganggap makanan tidak berkaitan dengan gangguan Autism sedangkan pakar Autis terkenal lain berkeyakinan bahwa makanan berkaitan dengan gangguan pada penderita Autis. Sehingga saat berobat ke beberapa dokter tersebut secara bersamaan orangtua penderita Autis menjadi bingung. Dokter yang satui membilehkan semua makanan untuik dikonsumsi sedangkan dokter lainnya harus memberikan pantangan makanan yang dikonsumsi setiap harinya
  • Berbagai klinisi dan penelitian banyak yang mengungkapkan bahwa alergi berkaitan dengan berbagai gangguan tubuh dan gangguan perilaku. Hal ini terjadi karena klinisi dan dokter tersebut menentukan tanda dan gejala alergi dengan melakukan diagnosis klinis dengan eliminasi provokasi. Sedangkan dokter lain dan peneliti lain mengungkapkan bahwa alergi tidak berkaitan dengan berbagai manifestasi yang ada karena menggunakan dasar laboratorium atau tes alergi. Padahal dalam menentukan diagnosis alergi makanan yang paling penting adalah diagnosis klinis bukan laboratorium atau tes alergi. Sedangkan klinisi yang lain menganggap berbagai gangguan yang ditimbulkan pada penderita alergi tersebut adalah manifestasi normal yang dengan pertambahan usia akan membaik sendiri tanpa bisa menjelaskan penyebabnya.
  • Bukan hanya kaitan Autism dan Alergi, dalam tes alergipun terjadi banyak kontroversi dan beda pendapat. Pada penderita Autism seringkali dilakukan pemeriksaan alergi dengan darah yang dikirim ke luar negeri biasanya Amerika Serikat seperti IgG4 adalah metoda diagnosis unproven dan “unorthodox” atau tak lazim dipakai dalam mendiagnosis alergi dan beberapa penyakit. Biasanya pemeriksaan ini digunakan oleh beberapa dokter untuk mencari penyebab alergi pada penderita gangguan perilaku khususnya Autism. Pemeriksaan ini digunakan tidak berdasarkan dasar ilmiah dan tidak terdapat data ilmiah bersifat penelitian terkontrol yang dapat membuktikan manfaat alat diagnosis ini.
  • Seorang penderita Autism setelah melakukan pemeriksaan darah IgG4 tersebut, dokter atau klinisi yang merawatnya bingungkarena hampir semua jenis makanan ternyata alergi. Sehingga dilakukan diet rotasi, jadi makanan yang menjadi penyebab alergi tetap diberikan tetapi seminggu sekali. padahal meski sekali seminggu dampak makanan tersebut akan tetap terjaid selama seminggu. Bahkan diet glutenpun pengaruhnya baru hilang setelah sebulan.
    Seorang dokter pernah diklaim oleh dokter lainnya ketika menulis bahwa tes alergi tertentu tidak direkomendasikan dan tidak akurat sebagai pengobatan atau diagnosis. Bahkan perbedaan pendapat tersebut berpotensi akan memasuki meja hijau, tetapi dengan komunikasi ilmiah yang dilakukan ternyata perbedaan pendapat tersebut dapat diperbaiki.
  • Kontroversi terbesar lainnya adalah penggunaan tes alergi dalam mencari penyebab alergi. Pemeriksaan untuk mencari penyebab alergi makanan sangatlah beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih. Untuk mencari penyebab alergi harus semata berdasarkan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan atau tes alergi. Diagnosis klinis adalah yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak kecil dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Standar baku untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge/DBPCFC). DBPCFC ini adalah gold standard atau standar baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut dengan melakukan Chalenge Test Terbuka Sederhana. Pemeriksaan alergi lain yang direkomendasikan secara ilmiah adalah tes kulit alergi, karena telah terbukti secara ilmiah sensitivitasnya. Namun Skin Prick Test tersebut hanya dapat mendeteksi sebagian kecil makanan dengan tipe cepat sebagianm besar makan tipe lambat tidak bisa terdeteksi. Karena kesulitan dalam tes alergi tersebut, ternyata banyak tes alergi canggih dan baru saat ini yang tidak direkomendasikan oleh institusi Alergi Internasional karena tak terbukti secara ilmiah. Meski tak terbukti ilmiah, masih banyak dokter dan klinisi yang menggunakannya. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial dan tidak direkomendasikan tersebut adalah IgG4 (biasanya diperiksa dan dikirim ke Amerika), Applied Kinesiology, VEGA Testing, Electrodermal Test atau Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET) dan tes analisa DNA rambut. Sampai saat ini, organisasi alergi Internasional seperti ASCIA (The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy), WAO (World allergy Organization), dan AAAI (American Academy of Allergy Asthma and Immunology) tidak merekomendasikan penggunaan alat diagnosis alternatif di atas. Beberapa organisasi profesi alergi dunia seperti tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut karena tidak terbukti secara ilmiah. Yang menjadi perhatian, oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut, tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang justru sering memperberat permasalahan alergi yang ada.
    Karena kesulitan mencari penyebab alergi makanan tersebut maka terfdapat berbagai perbedaan pendapat tentang diet pada penderita autism, Terdapat pendekatan diet alergi, diet bebas gluten, bebas gula, diet rotasi dan masih banyak lagi.
  • Kontroversi lain yang sering terjadi sebaiknya pasiennya tidak perlu pantang makanan nanti akan kekuarangan gizi. Padahal banyak ragam berbagai dokter dengan pengalaman klinis yang dipunyai mengadviskan kepada pasiennya secara berbeda untuk menghindari makanan tertentu, pengawet, MSG dan sebagainya. Sedangkan diokter lainnya memberikan tes alergi makanan dengan melakukan eliminasi provokasi makanan dianggap sebagai melarang semua makanan dalam jangka panjang padahal hanya untuk sementara sedang mencari penyebab alergi.
  • Seorang dokter ahli dipermasalahkan oleh sebagian dokter ahli lainnya mengungkapkan berbagai tanda dan gejala alergi yang ada berkaitan dengan makanan. Padahal ungkapan tersebut disampaikan ditunjang dengan fakta ilmiah dari berbagai penelitian yang ada. Akhirnya perbedaan pendapat ini masuk dalam ranah komite etik profesi. Dalam pertemuan tersebut juga masih terjadi perbedaan pendapat tajam. Seorang nara sumber bidang yang berkopeten mengatakan bahwa bisa saja pengaruh histamin dapat menganggu berbagai organ tubuh lainnya meski insidennya tidak banyak. Tetapi yang pihak lain bependapat bahwa berbagai pakar dari berbagai keahlian tidak setuju dengan berbagai tanda dan gejala tersebut dikaitkan dengan alergi makanan. Tetapi akhirnya salah satu pihak mengalah untuk tidak memper panjang kontroversi ini demi kesejawatan.
  • Seorang penderita kejang yang berlangsung selama sepuluh tahun dengan minum berbagai obat anti kejang tidak membaik. Dalam pemeriksaan laboratorium, CT scan dan EEG dalam batas normal. Berbagai dokter ahli persarafan di Indonesia bahkan di Singapura di bidangnyapun masih terjadi beda pendapat. Sebagian menyarankan minum obat kejang sebagian dokter lainnya obat kejang tidak perlu. Ketika dilakukan evaluasi ternyata penderita mengalami gangguan alergi makanan dan dicurigai bahwa sangat mungkin gangguan kejang karena berkaitan dengan alergi makanan. Saat dilakukan elminasi provokasi makanan terbukti gejala alergi saluran cerna membaik dan keluhan kejang membaik tanpa pengobatan anti kejang. Saat itu penderita melakukan elminansi provokasi makanan dengan ketat selama 2 bulan. Tetapi saat mendengar informasi dari dokter ahli lainnya bahwa makanan tidak berkaitan dengan gejala tersebut penderita melepas lagi program eliminasi provokasi makanan. Ketika melakukan konsultasi ulang ternyata setelah 2 bulan paska menarik diri dari program elimnasi provokasi tersebut gejala kejang tersebut hilang timbul lagi dengan berganti-ganti obat tetapi responnya tidak membaik seperti yang diharapkan.
  • Perbadaan pendapat yang tajam itu juga terjadi dikalangan awam. Seorang ibu yang pernah punya pengalaman bahwa makanan mengganggu berbagai permasalahan kesehatan anaknya seperti sering sakit, sulit BAB, sering muntah atau gangguan kulit. Tetapi kakek, nenek, atau saudaranya yang tidak mengalami sendiri fakta gangguan yang terjadi pada anaknya seringkali sinis dan menganggap bahwa hal itu aneh dan tidak yakin bahwa hal itu memang terjadi. Sehingga seringkali membuat perbedan dan pertentangan pendapat yag tajam antara orangtua dan nenek atau kakek penderita.

Dalam abad terakhit ini sebenarnya banyak sekali fakta ilmiah berdasarkan beberapa penelitian ilmiah belakangan telah terungkap bahwa alergi makanan menimbulkan komplikasi yang cukup mengganggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sudah ada tersebut. Meski berbagai peneilitian klinis juga mengungkapkan hal tersebut ternyata terdapat juga sebagian penelitian klinis yang tidak sependapat bahwa berbagai kelainan tersebut tidak berkaitan dengan alergi.

Memang sampai saat ini bahkan di negara sudah majupun banyak gangguan alergi tidak disadari bahkan oleh sebagian dokter. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa berbagai keluhan yang dia alami atau yang dialami anaknya itu adalah gejala alergi. Resource (Marketing Research) Limited melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, tahun 2000 dilaporkan lebih dari 50% orang dewasa menderita alergi makanan. Sekitar 70% penderita alergi baru mengetahui kalau ia mengalami alergi setelah lebih dari 7 tahun. Sekitar 50% orang dewasa mengetahui penyebab gejala alergi setelah 5 tahun, bahkan terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Sebanyak 80% penderita alergi mengalami gejala seumur hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa di negara maju seperti Inggrispun para dokter terlambat mendiagnosis alergi apalagi di Indonesia. Ternyata para dokter di Inggrispun menganggap bahwa selama ini berbagai gangguan yang ada tidak berkaitan dengan alergi.

Berbagai gangguan alergi atau hipersensitifitas makanan tersebut adalah gangguan fungsional sehingga dianggap normal dan dikatakan dengan pertambahan usia akan membaik. Mungkin saja saja sebagian pendapat tersebut benar. Memang penderita alergi makanan terutama yang mengganggu saluran cerna dan ssusunan saraf pusat mengalami gangguan fungsional. Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Bahkan beberapa dokter menganggap bahwa gangguan tersebut dipengaruhi karena stres. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik. Memang gangguan fungsional pada umumnya adalah masalah imaturitas atau ketidakmatangan sistem tubuh, karena dengan pertambahan usia setelah usia 2 hingga 7 tahun akan membaik. Meski ada yang masih mengalami hingga usia 12 tahun dan sebagian masih mengalami hingga dewasa meski dengan tingkat gangguan yang berkurang. Tetapi bukan berarti harus menunggu sampai usia tertentu membaik karena bila dilakukan elminasi provokasi makanan untuk mencari penyebab makanan penyebabnya gangguan tersebut akan membaik.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran dan teknologi kedokteran, namun kejadian alergi justru meningkat pesat, dan semakin banyak yang masih misterius belum terungkap. Banyak klinisi memvonis alergi pada penderita tetapi tidak bisa mengadviskan dengan pasti penghindaran penyebab karena kesulitan terbesar penanganan alergi adalah mencari penyebabnya.

Alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dan hipersensitivitas makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan Autism.

Bila melihat demikian luasnya gangguan yang terjadi dan banyaknya organ yang terganggu, tampaknya alergi dan hipersensitivitas makanan adalah suatu “gangguan sistemik”. Dapat dimaklumi bila ada pendapat, bahwa ungkapan itu terlalu berlebihan karena semua keluhan selalu dikaitkan dengan alergi dan hipersensitifitas makanan. Namun pendapat ini akan sirna, bila banyak penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mengungkapkan, memang benar bahwa gangguan dan keluhan tersebut memang terjadi pada dirinya. Secara ilmiahpun hal ini didukung oleh penelitian ilmiah dan laporan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu yang mengaitkan bahwa berbagai gejala tersebut penyebabnya adalah alergi. Habnya seringkali terjadi kontroversi yang berlebihan antara sesama dokter dan orangtua karena alergi dan hipersensitivitas makanan hanya bisa ditegakkan diagnosisnya dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis klinis adalah mengamati secara cermat tanda dan gejala yang timbul berkaitan dengan pemberian makanan yang diberikan melalui anamnesa (menanyakan secara cermat semua keluhan) dan pemeriksaan fisaik oleh dokter.

Dalam beberapa puluh tahun lamanya mungkin sering dihadapi oleh masyarakat pada umumnya, masih sering terjadi kontroversi tentang penyakit alergi dan hipersensitifitas makanan. Sering terjadi bukan hanya pada orang awam di kalangan dokterpun masih banyak terjadi perbedaan pendapat. Seorang penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mendapat advis dari seorang dokter untuk menghindari makanan tertentu untuk mengurangi keluhan penyakitnya. Tetapi dokter lainnya mengatakan tidak perlu menghindari makanan tersebut, karena makanan tidak berhubungan dengan penyakitnya. Sebagian dokter berpendapat, bahwa gejala alergi dan hipersensitivitas makanan jarang ditemukan. Ada pendapat alergi dan hipersensitivitas makanan hanya berkaitan dengan sedikit penyakit dan sangat jarang menyangkut bahan makanan.

Makanan yang diakui sebagai penyebab alergi masih sangat terbatas misalnya gluten susu dan ikan. Sedangkan kubu dokter lain berpendapat alergi dan hipersensitivitas makanan sangat umum dan bersembunyi dibalik berbagai kelainan yang hingga sekarang tak dapat disembuhkan, seperti radang sendi (artritis), eksim (dermatitis atau alergi kulit), migren (sakit kepala sebelah). Mereka ingin mengungkapkan bahwa seluruh permasalahan kesehatan dapat dicetuskan dan disembuhkan dengan penanganan alergi dan hipersensitivitas makanan. Timbul pendapat bahwa penyebab alergi makanan tidak dibatasi, semua jenis makanan atau minuman dapat dianggap sebagai penyebab alergi.

Bahkan bahan bukan makanan dapat menyebabkan alergi seperti semprotan rambut, uap obat nyamuk, uap bensin, plastik dan semua bahan kimia yang potensial mengganggu dalam lingkungan kita. Penyebab alergi lainnya yang sudah lama diyakini dan tidak disangsikan lagi adalah debu, kutu, bulu binatang, serbuk sari atau bulu unggas lainnya.

Suasana perbedaan pendapat tersebut jauh dari suasana kekeluargaan dan jauh dari rasa etika kesejawatan. Sehinggga seringkali timbul ungkapan dari berbagai pihak terdaap pihak lainnya dengan ucapan seperti “tak terbukti”, “berbahaya”, “orientasi obat”, “berpikiran sempit”, “tidak ilmiah” atau “tidak kompeten” secara tak sadar secara langsung diterima oleh pasien. Jika para pakar medis sudah berbeda pendapat secara tajam, maka orang awam menjadi bingung karena pendapat berbagai dokter berlainan. Dalam menghadapi kontroversi ini tidak heran bila masyarakat semakin bingung tak tahu harus minta bantuan kemana. Fakta ilmiah dan data penelitian telah banyak menunjukkan bahwa ternyata makanan tertentu dapat menyebabkan berbagai gangguan yang selama ini tidak diperkirakan banyak orang. Ternyata, makanan yang bergizi setinggi apapun dan selezat apapun ternyata dapat merugikan mengganggu tubuh manusia yang sebaliknya dapat mengakibatkan berbagai gangguan fungsi tubuh.

Berbagai gangguan dan sistem tubuh telah disepakati sebagai akibat pengaruh makanan. Tetapi sebaliknya justru telah menjadi kontroversi baik masyarakat awam maupun sesama dokter bahwa ternyata berbagai makanan sebagai penyebab gangguan tubuh manusia. Hal itu terjadi karena untuk memastikan pengaruh makanan terhadap tubuh bukan berdasarkan tes alergi atau pemeriksaan laboratorium semata tetapi berdasarkan diagnosis klinis yang di bidang medis di sebut chalenge test atau eliminasi provokasi makanan.

Tidak hanya dalam alergi makanan, tampaknya kontroversi itu adalah hal yang biasa seperti hal penyakit lainnya di bidang kedokteran. Biasanya bila untuk memastikan diagnosis suatu penyakit atau kelainan hanya berdasarkan diagnosis klinis seringkali akan menimbulkan banyak kontroversi krena subyektifitasnya sangat tinggi. Contoh tersebut adalah dalam diagnosis Autism, ADHD, dan diagnosis gangguan fungsional lainnya yang dalam pemeriksaan imunopatobiologis normal. Hal ini mengakibatkan bahwa ADHD adalah wrong doagnosis terbesar di Amerika Serikat. Kondisi tersebut juga mengakibatkan mengapa seorang gangguan perilaku yang sama didiagnosis yang berbeda oleh 5 dokter yang berbeda. Beragamnya diagnosis kepada anak yang sama tersebut seperti diagnosis Autis, Autism Ringan, Bukan Autis, PDD NOS atau ADHD. Padahal klinisi yang mendiagnosisnya adalah sudah berkopeten di bidangnya. Tetapi bila dasar diagnosis tersebut parameternya disertai laboratorium dan pemeriksaan penunjang maka perbedaan pendapat tersebut semakin jarang. Misalnya diagnosis Hepatitis B, Hipertensi, Sindrom Nefrotik (kelainan ginjal) atau Diabetes Melitus maka dalam mendiagnosisnya relatif tidak menimbulkan perbedaan persepsi.
Sumber Kontroversi

Di bidang ilmu kedokteran telah disepakati secara ilmiah bahwa untuk memastikan penyebab alergi adalah dengan eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi. Tes alergi hanya membantu diagnosis bukan memastikan penyebab alergi. Tetapi kesepakatan ilmiah yang seharusnya tidak terbantahkan ini sering diabaikan dan menjadi sumber berbagai kontroversi yang ada
Penyebab lain perbedaan pendapat ini adalah sulitnya untuk memastikan penyebab alergi dengan melakukan eliminai provokasi makanan. Gold Standart atau standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah DBPCFC (Double Blind Placebo Chalenge Food Control). Tetapi karena relatif rumit timbul beberapa modifikasi Chalenge test atau eliminasi provokasi makanan yang kelihatan mudah tetapi sulit ini seringkali tidak pernah dilakukan oleh klinisi dan sebagian ahli alergi untuk memastikan penyebab alergi makanan.
Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik.
Penelitian berbagai manifestasi klinis dan pengaruh alergi makanan masih belum banyak terungkap jelas. Sampai saat ini keterkaitan berbagai manifestasi klinis gangguan fungsi tubuh dengan alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya masih relatif sulit dibuktikan secara ilmiah. Dalam penelitian ilmiah penelitian klinis adalah mempunyai kualitas penelitian yang tidak lebih baik dibandingkan penelitian yang diukur dengan parameter imunopatobiologis. Padahal diagnosis alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya berdasarkan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium imunopatobiologis Hal inilah yang mengakibatkan bahwa keterkaitan manifestasi klinis dengan alergi makanan sulit dibuktikan dengan standard ilmiah yang lebih baik. Pada umumnya dasar diagnosis penelitian alergi makanan dan hipersensitifita lainya yang membuktikan ketidakbermaknaannya hubungan tersebut dibuat bukan berdasarkan eliminasi provokasi tetapi berdasarkan parameter tes alergi dan laboratorium penunjang. Sehingga kesimpulan yang dibuatpun menjadi lemah. Seharusnya penelitian dampak alergi makanan atau manifestasi alergi makanan berdasarkan eliminasi provokasi makanan bukan berdasarkan parameter laboratorium atau pemeriksaan ts alergi. Di masa datang permasalahan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan akan lebih terungkap dengan jelas bila penelitian klinis eliminasi provokasi makanan disertai perubahan klinis dan perubahan biomolekular.
Sebagian dokter bahkan masih mendewakan tes alergi sebagai cara untuk mencari memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan. Hal ini tampak dengan banyak pendapat dari beberapa dokter bahwa ketika seseorang dipastikan menderita alergi makanan dan hipersensitifitas makanan dengan eliminasi provokasi masih disangsikan ketika belum dilakukan tes alergi. Padahal justru angka kejadian alergi makanan lebih sedikit dibandingkan hipersensittifitas makanan lainnya. Secara umum penderita alergi makanan adalah berkisar 4-9% tetapi diduga angka kejadian hipersensitifita makanan lainnya sepuluh kali lipat dibandingkan penderita alergi makanan. Tes alergi memang diperlukan untuk diagnosis tetapi untuk memastikannya harus dikonfirmasi lagi dengan eliminasi provokasi atau chalenge test.

Sumber Kontroversi lainnya

Pada umumnya gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan merupakan gangguan fungsional sistem tubuh. Gangguan fusngsional sistem tubuh mempunyai karakteristik oragan tubuh yag terlibat sering dianggap normal dan dalam pemeriksaan penunjangpun tidak ditemukan kelainan. Sehingga saat dilakukan pemeriksaan penunjang apapun seperti USG, CT Scan, MRI, EEG atau pemeriksaan lainnya pada organ tubuh adalah normal. Bila dikatakan normal sering timbul pertanyaan pada penderta. Mengapa dikatakan normal, padahal saya sangat menderita setiap hari dan berlangsung demikian lama. Dalam kedaan seperti ini biasanya setiap dokter yang memeriksa akan memeberikan pendapat yang bebeda tentang penyebabnya, bahkan sebagian dokter mengatalkan jujur tidak tahu penyebabnya. Beberapa dokter yang mencoba berspekulasi memberikan penilaian tentang penyebab kelainan tersebut biasanya jawaban seputar stres, masuk angin, terlalu capek dan masih bayak penyebab lainnya yang secara ilmiah kadang tidak sesuai. Sehingga saat wajar ketika pasien mengeluhkan gangguan yang selama ini diderita kepada tiga atau lima dokter pendapatnya akan berbeda. Hal ini akan membuat penderita semakin frustasi. Bila penyebabnya masih simpang siur maka akan berimbas pada terapinya akan juga tidak akan pernah fokus pada penyebabnya. Hal inilah yang juga mengakibatkan penderita gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan menjadi berkepanjangan hilang timbul terus menerus dengan berpindah-pindah dokter.
Berdasarkan beberapa fakta ilmiah belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup menggaggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sdah ada tersebut.
Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun mungkin sudah dapat terdeteksi. Alergi dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan Anak secara menyeluruh. Sehingga “overtreatment” dan “overdiagnosis” yang diberikan terhadap penderita alergi dapat dicegah sedini mungkin. Akhirnya komplikasi yang ditimbulkan khususnya dalam ganguan otak dan gangguan perilaku juga dapat dicegah lebih dini.

Berbagai pendapat dalam kontroversi itu adalah Kesulitan memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan yang seharusnya berdasarkan klinis ini mengakibatkan melebarnya perbedaan pandangan di bidang lainnya. Kontroversi tersebut adalah :

Pendapat ekstrim sebagian dokter yang mengatakan bahwa belum di tes dan diperiksa laboratorium tetapi sudah dipastikan alergi
Beberapa dokter berulang kali mengatakan bahwa penyebab alergi makanan terbesar di Jakarta adalah udang dan ikan laut, karena berdasarkan tes kulit alergi. Padahal tes kulit bukan untuk memastikan penyebab alergi makanan. Seharusnya yang benar adalah “kemungkinan” penyebab alergi adalah udang. Karena, belum tentu berbagai hasil tes kulit yang negatif adalah bukan penderita alergi makanan bahan yang di tes tersebut.
Setiap ada tanda dan gejala alergi pada bayi selalu saja anak langsung dianjurkan pemberian susu hipoalergenik parsial, padahal belum tentu anak alergi susu sapi. Hal lain yang tidak berkaitan bahwa pemberian susu hipoalergenik parsial bukan sebagai pemgobatan alergi susu sapi tetapi sebagai pencegahan alergi. Pencegahan adalah bila anak tidak ada gejal;a alergi untuk mencegah alergi harus menggunakan susu hipoalergenik parsial, tetapi kalau ada gejala harus diamati apakah alergi susu sapi atau tidak.
Setiap ada tanda dan gejala alergi bahkan beberapa dokter langsung memvonis alergi susu sapi dan diadviskan dengan pemberian susu hipoalergeenik ekstensif atau soya, padahal 6 bulan sebelumnya menggunakan susu sapi tidak masalah.
Pemeriksaan alergi dengan tes alternatif yang tidak diakui oleh berbagai institusi kesehatan internasional dan tidak terbukti secara ilmiah seperti bioresonansi, IgG4 (yang dikirim ke Amerika) dan berbagai tes unproven lainnya
Penanganan langkah awal penderita alergi adalah mendeteksi penyebab dan menghindarinya. Tetapi karena berbagai kesulitan langkah awal ini diabaikan tetapi langsung masuk ke langkah berikutnya dengan pengobatan dan pencegahan alergi dengan obat-obatan.
Berbagai hal gejala dan gangguan fungsi tubuh disebabkan alergi dan hipersensitifitas makanan lainnya sering disangkal. Tetapi justru penyangkalan tersebut tanpa data ilmiah untuk membuktikan memang tidak berhubungan. Tetapi justru penelitian awal yang sudah semakin banyak bahkan tetap masih dipandang sebelah mata karena memang didoinasi penelitian klinis.
Pemakaian obat-obatan untuk profilaksis alergi makanan baik dengan ketotifen (profilas) atau obat alergi lainnya yang tidak terbukti sebagai pencegahan.
Sebenarnya fakta makanan dapat mengakibatkan berbagai manifestasi penyakit sudah diyakini beberapa praktisi kesehatan sejak lama. Hanya karena keterkaitan masalah tersebut belum dapat dibuktikan secara klinis tentang penyebabnya maka juga timbul berbagai perbedaan pandangan.
Berbagai pendekatan diet yang dianggap tidak seuai manifestasi imunopatobiologis bidang kedokteran di antaranya adalah :

Diet berdasarkan Golongan darah
Diet rotasi
Diet Asam basa

Angka kejadian alergi dan hipersensitifitas makanan terus meningkat tajam dalam dekade terakhir ini. Terdapat kecenderungan alergi pada anak, merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan pelayanan Kesehatan Anak. Perhatian dan penanganan alergi pada anak masih belum optimal, bahkan sering terjadi keterlambatan penanganan. Tampak pada orang tua penderita alergi baru menyadari bahwa anaknya menderita alergi setelah sekian tahun lamanya anaknya menderita sakit yang berulang dan telah berganti-ganti dokter.

Cara menyikapinya

  • Seperti kontroversi alergi makanan lainnya, kaitan Autism dan alergi adalah kontroversi terbesar bagi masyarakat awam dan klinisi. Permasalahan alergi makanan adalah kontroversi yang sangat tajam tersebut bukan hanya membingungkan para dokter tetapi pasienpun akan lebih bingung dalam menerima perbedaan pendapat para dokter tersebut. Untuk menyikapi hal tersebut sebenarnya buklan dengan langsung memvonis dokter satu paling benar atau dokter lain salah. Tetapi dipihak klinisi atau organisasi profesi harus membuat forum disikusi dan kalau perlu membuat workshop atau debat ilmiah untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau sudah sepakat maka para klinisi tersebut melalui organisasi profesi mengeluarkan rekomendasinya. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran fakta ilmiah sesuai Evidance Base Medicine. Bukan berdasarkan opini pakar atau profesor tanpa mempertimbangkan fakta ilmiah yang ada.
  • Bagi klinisi yang berseberang pendapat memang wajar terjadi tetapi harus berdasarkan fakta ilmiah dari pengalaman klinis berbasis bukti dengan didasari oleh berbagai penelitian. Tetapi sebaiknya bila klinisi tersebut tidak berbekal data ilmiah tetapi langsung membuat kontroversi semakin panas sangat disayangkan karena penyelesaian perbedaan pendapat tersebut harus diselesaikan dengan cara ilmiah bukan dengan debat tidak ilmiah.
  • Sedangkan di pihak pasien atau orangtua pasien dalam menyikapi hal ini harus secara obyektif. Bila orangtua atau pasien ragu dengan berbagai kontroversi tersebut maka sebaiknya ikuti langkah eliminasi provokasi atau chalenge test di bawah pengawasan dokter ahli. Bila berbagai gangguan yang ada membaik maka sebaiknya penderita harus percaya dengan fakta yang ada, bahwa alergi dapat mengganggu berbagai organ tubuh yang ada termasuk memperberat tanda dan gejala Autism yang sudah ada. Bila fakta tersebut ada, bukan berarti harus mengatakan dokter satu paling benar atau menyalahkan pendapat dokter lainnya bahwa dokter yang lain salah. Bahwa memang kebenaran ilmiah tersebut akan terjadi seiring dengan berjalannya waktu yang membutuhkan proses ilmiah alamiah yang panjang

Referensi
1.Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988. 2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut 3. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual. 4. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156. 5. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14 6. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-71 7. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33 8. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2 9. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3. 10. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613 11. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177. 12. Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41. 13. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37. 14. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775. 15. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81. 16. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103. 17. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90. 18. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5 19. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177. 20. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342. 21. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone. 22. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour. 23. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy. 24. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections. 25. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003 26. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64. 27. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child 28. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500. 29.Feeding symptoms, dietary patterns, and growth in young children with autism spectrum disorders. Emond A, et al. Pediatrics. 2010. 30. The review of most frequently occurring medical disorders related to aetiology of autism and the methods of treatment. Cubala-Kucharska M, et al. Acta Neurobiol Exp (Wars). 2010. 31. Evaluation, diagnosis, and treatment of gastrointestinal disorders in individuals with ASDs: a consensus report. Buie T, et al. Pediatrics. 2010, 32.To test or not to test: parent information for discussions of food allergy and autism. Malloy C, et al. Del Med J. 2009.33.Substitutive and dietetic approaches in childhood autistic disorder: interests and limits]. Hjiej H, et al. Encephale. 2008..34. Autism and gastrointestinal disease: a different point of view]. No authors listed. Pediatr Med Chir. 2008..35. Complementary and alternative medical therapies for attention-deficit/hyperactivity disorder and autism. Weber W, et al. Pediatr Clin North Am. 2007.36. Diet and child behavior problems: fact or fiction? Cormier E, et al. Pediatr Nurs. 2007.37. Diet, immunity, and autistic spectrum disorders. Murch S, et al. J Pediatr. 2005.38. Dysregulated innate immune responses in young children with autism spectrum disorders: their relationship to gastrointestinal symptoms and dietary intervention. Jyonouchi H, et al. Neuropsychobiology. 2005.39. Innate immunity associated with inflammatory responses and cytokine production against common dietary proteins in patients with autism spectrum disorder. Jyonouchi H, et al. Neuropsychobiology. 2002.40.Phenotypic variation in xenobiotic metabolism and adverse environmental response: focus on sulfur-dependent detoxification pathways. McFadden SA, et al. Toxicology. 1996.41. Food allergy and infantile autism. Lucarelli S, et al. Panminerva Med. 1995.42. Risks with controlling diet. Banov CH, et al. J Autism Dev Disord. 1979.43. Disruptive behavior: a dietary approach. O’Banion D, et al. J Autism Child Schizophr. 1978.44.Malabsorption and cerebral dysfunction: a multivariate and comparative study of autistic children. Goodwin MS, et al. J Autism Child Schizophr. 1971. 45. Immunological characterization and transcription profiling of peripheral blood (PB) monocytes in children with autism spectrum disorders (ASD) and specific polysaccharide antibody deficiency (SPAD): case study. Jyonouchi H, et al. J Neuroinflammation. 2012. 46. Brief report: “allergic symptoms” in children with Autism Spectrum Disorders. More than meets the eye? Angelidou A, et al. J Autism Dev Disord. 2011. 47. Elevated plasma cytokines in autism spectrum disorders provide evidence of immune dysfunction and are associated with impaired behavioral outcome. Ashwood P, et al. Brain Behav Immun. 2011. 48. Impaired carbohydrate digestion and transport and mucosal dysbiosis in the intestines of children with autism and gastrointestinal disturbances. Williams BL, et al. PLoS One. 2011. 49. Pathways underlying the gut-to-brain connection in autism spectrum disorders as future targets for disease management. de Theije CG, et al. Eur J Pharmacol. 2011.50.Large-scale methylation domains mark a functional subset of neuronally expressed genes. Schroeder DI, et al. Genome Res. 2011. 51 A clear look at the neuroimmunology of multiple sclerosis and beyond. Selmi C, et al. Autoimmun Rev. 2012 Increased serum osteopontin levels in autistic children: relation to the disease severity. Al-ayadhi LY, et al. Brain Behav Immun. 2011. 52. Current Molecular Medicine. Li DW, et al. Curr Mol Med. 2011 Intrauterine inflammation, insufficient to induce parturition, still evokes fetal and neonatal brain injury. Elovitz MA, et al. Int J Dev Neurosci. 2011. 53.Increased serotonin axons (immunoreactive to 5-HT transporter) in postmortem brains from young autism donors. Azmitia EC, et al. Neuropharmacology. 2011

www.klinikautis.com

photo

Provided By: KLINIK AUTIS ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 0 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growup-clinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, KLINIK AUTIS ONLINE, Information Education Network. All rights reserved