Autism dan Alergi Hipersensitifitas Makanan, Kontroversi Terbesar di Kalangan Awam dan Medis

Autism dan Alergi Hipersensitifitas Makanan, Kontroversi Terbesar di Kalangan Awam dan Medis

Highlight Kontroversi Autism dan Alergi Makanan

  • Banyak timbul kontroversi perbedaan pendapat yang tajam antara orang awam dalam lingkungan keluarga dan klinisi atau dokter di kalangan medis. Bahkan pakar Autism di indonesia dan di duniapun berbeda pendapat tentang hal itu.
  • Kontroversi terjadi karena sulitnya mencari Penyebab Alergi
  • Benarkah Aku dan anakku tidak Alergi makanan ?
  • Memastikan penyebab alergi makanan harus dengan chalenge tes atau eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi.

Case Preview

Sepasang orangtua penderita Autism semakin bingung dalam menangani gangguan anaknya. Sangat bingung karena berbagai pendapat dokter seringkali berbeda, banyaknya pemeriksaan yang harus dilakukan, banyak vitamin atau obat yang diberikan dan terapi yang ditawarkan sangat banyak dan semua mengatakan bermanfaat dan bisa menyembuhkan autism. Karena bingung akhirnya melakukan second opinion kepada dua ahli Autism terkemuka di Indonesia ternyata menjadi lebih bingung lagi karena pendapatnya secara ekstrim berbeda. Satu ahli menyatakan boleh bebas makanan segalanya tetapi ahli lainnya merekomendasikan pantangan makanan berdasarkan tes alergi yang dikirim ke Amerika. Akhirnya orangtua melakukan diet eliminasi provokasi berdasarkan rekomendasi dokter lainnya. Ternyata bukan hanya orangtua , pihak terapispun kagum dengan perkembangan anaknya. Meski sudah diterapi selama 9 bulan dalam 3 minggu terakir ini perkembangannya sangat pesat, walaupun belum membaik secara sempurna.

Latar Belakang

Banyak kasus penderita Autism dan sekaligus penderita alergi sering frustasi karena hilang timbulnya keluhan dan tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Sehingga berbagai dokter telah dikunjungi namun seringkali semakin bingung karena pendapat berbagai dokter tersebut tidak ada yang sama. Seorang dokter mengatakan makanan tidak berkaitan dengan berbagai gejala autism. Tetapi kelompok dokter lain mengatakan bahwa makanan berperanan dengan gangguan yang ada. Sementara itu dokter lain menyatakan pasiennya alergi susu sapi, sedangkan dokter berikutnya yang dikunjungi menyatakan bahwa dia tidak alergi susu sapi. Hal ini wajar terjadi dalam praktek sehari-hari karena sumber kontroversi tersebut sampai saat ini adalah kesulitan penentuan diagnosis alergi makanan dan banyak faktor pemicu yang berpengaruh. Dasar kesulitan dan kontroversi itu adalah untuk memastikan makanan sebagai penyebab alergi adalah dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bukan hanya perbedaan pendapat antara klinisi, hasil penelitian tentang alergi makanan berkaitan dengan manifestasi berbagai organpun seringkali tidak sama karena sebagian peneliti mengandalkan diagnosis bukan dengan diagnosis klinis tetapi dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bila kesalahan dasar ini terjadi maka perbedaan pendapat dan kontroversi tersebut akan terjadi semakin besar dalam penanganan berbagai kasus alergi.

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi tampaknya dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak dan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hiperaktif (ADHD) hingga memperberat gejala Autisme.

Dasar perbedaan pendapat tersebut adalah kesulitan untuk memastikan penyebab alergi. Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Grow Up Clinic  Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Karena kesulitan tersebut maka dalam berbagai penelitian dan penanganan klinis banyak timbul berbagai tes dan pemeriksaan al;ergi yang akurasinya tidak terlalu baik atau sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik.

Ilustrasi Kasus Kontroversi Autism dan alergi di kalangan awam dan medis:

  • Seorang pakar Autis terkenal di Indonesia menganggap makanan tidak berkaitan dengan gangguan Autism sedangkan pakar Autis terkenal lain berkeyakinan bahwa makanan berkaitan dengan gangguan pada penderita Autis. Sehingga saat berobat ke beberapa dokter tersebut secara bersamaan orangtua penderita Autis menjadi bingung. Dokter yang satui membilehkan semua makanan untuik dikonsumsi sedangkan dokter lainnya harus memberikan pantangan makanan yang dikonsumsi setiap harinya
  • Berbagai klinisi dan penelitian banyak yang mengungkapkan bahwa alergi berkaitan dengan berbagai gangguan tubuh dan gangguan perilaku. Hal ini terjadi karena klinisi dan dokter tersebut menentukan tanda dan gejala alergi dengan melakukan diagnosis klinis dengan eliminasi provokasi. Sedangkan dokter lain dan peneliti lain mengungkapkan bahwa alergi tidak berkaitan dengan berbagai manifestasi yang ada karena menggunakan dasar laboratorium atau tes alergi.  Padahal dalam menentukan diagnosis alergi makanan yang paling penting adalah diagnosis klinis bukan laboratorium atau tes alergi. Sedangkan klinisi yang lain menganggap berbagai gangguan yang ditimbulkan pada penderita alergi tersebut adalah manifestasi normal yang dengan pertambahan usia akan membaik sendiri tanpa bisa menjelaskan penyebabnya.
  • Bukan hanya kaitan Autism dan Alergi, dalam tes alergipun terjadi banyak kontroversi dan beda pendapat. Pada penderita Autism seringkali dilakukan pemeriksaan alergi dengan darah yang dikirim ke luar negeri biasanya Amerika Serikat seperti IgG4 adalah metoda diagnosis unproven dan “unorthodox” atau tak lazim dipakai dalam mendiagnosis alergi dan beberapa penyakit. Biasanya pemeriksaan ini digunakan oleh beberapa dokter untuk mencari penyebab alergi pada penderita gangguan perilaku khususnya Autism. Pemeriksaan ini digunakan tidak berdasarkan dasar ilmiah dan tidak terdapat data ilmiah bersifat penelitian terkontrol yang dapat membuktikan manfaat alat diagnosis ini.
  • Seorang penderita Autism setelah melakukan pemeriksaan darah IgG4 tersebut, dokter atau klinisi yang merawatnya bingungkarena hampir semua jenis makanan ternyata alergi. Sehingga dilakukan diet rotasi, jadi makanan yang menjadi penyebab alergi tetap diberikan tetapi seminggu sekali. padahal meski sekali seminggu dampak makanan tersebut akan tetap terjaid selama seminggu. Bahkan diet glutenpun pengaruhnya baru hilang setelah sebulan.
  • Seorang dokter pernah diklaim oleh dokter lainnya ketika menulis bahwa tes alergi tertentu tidak direkomendasikan dan tidak akurat sebagai pengobatan atau diagnosis. Bahkan perbedaan pendapat tersebut berpotensi akan memasuki meja hijau, tetapi dengan komunikasi ilmiah yang dilakukan ternyata perbedaan pendapat tersebut dapat diperbaiki.
  • Kontroversi terbesar lainnya adalah penggunaan tes alergi dalam mencari penyebab alergi.  Pemeriksaan untuk mencari penyebab alergi makanan sangatlah beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih. Untuk mencari penyebab alergi harus semata berdasarkan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan atau tes alergi.  Diagnosis klinis adalah yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak kecil dan dengan  eliminasi dan provokasi. Standar baku untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge/DBPCFC). DBPCFC ini adalah gold standard atau standar baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan.  Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut dengan melakukan Chalenge Test Terbuka Sederhana. Pemeriksaan alergi lain yang direkomendasikan secara ilmiah  adalah tes kulit alergi, karena telah terbukti secara ilmiah sensitivitasnya. Namun Skin Prick Test tersebut hanya dapat mendeteksi sebagian kecil makanan dengan tipe cepat sebagianm besar makan tipe lambat tidak bisa terdeteksi. Karena kesulitan dalam tes alergi tersebut, ternyata banyak tes alergi canggih dan baru saat ini yang tidak direkomendasikan oleh institusi Alergi Internasional karena tak terbukti secara ilmiah. Meski tak terbukti ilmiah, masih banyak dokter dan klinisi yang menggunakannya. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial dan tidak direkomendasikan tersebut adalah IgG4 (biasanya diperiksa dan dikirim ke Amerika), Applied Kinesiology, VEGA Testing, Electrodermal Test atau Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET) dan tes analisa DNA rambut. Sampai saat ini, organisasi alergi Internasional seperti ASCIA (The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy), WAO (World allergy Organization), dan AAAI (American Academy of Allergy Asthma and Immunology) tidak merekomendasikan penggunaan alat diagnosis alternatif di atas. Beberapa organisasi profesi alergi dunia seperti tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut karena tidak terbukti secara ilmiah. Yang menjadi perhatian, oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut, tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang justru sering memperberat permasalahan alergi yang ada.
  • Karena kesulitan mencari penyebab alergi makanan tersebut maka terfdapat berbagai perbedaan pendapat tentang diet pada penderita autism, Terdapat pendekatan diet alergi, diet bebas gluten, bebas gula, diet rotasi dan masih banyak lagi.
  • Kontroversi lain yang sering terjadi sebaiknya pasiennya tidak perlu pantang makanan nanti akan kekuarangan gizi. Padahal banyak ragam berbagai dokter dengan pengalaman klinis yang dipunyai mengadviskan kepada pasiennya secara berbeda untuk menghindari makanan tertentu, pengawet, MSG dan sebagainya. Sedangkan diokter lainnya memberikan tes alergi makanan dengan melakukan eliminasi provokasi makanan dianggap sebagai melarang semua makanan dalam jangka panjang padahal hanya untuk sementara sedang mencari penyebab alergi.
  • Seorang dokter ahli dipermasalahkan oleh sebagian dokter ahli lainnya mengungkapkan berbagai tanda dan gejala alergi yang ada berkaitan dengan makanan. Padahal ungkapan tersebut disampaikan ditunjang dengan fakta ilmiah dari berbagai penelitian yang ada. Akhirnya perbedaan pendapat  ini masuk dalam ranah komite etik profesi.  Dalam pertemuan tersebut juga masih terjadi perbedaan pendapat tajam. Seorang nara sumber bidang yang berkopeten mengatakan bahwa bisa saja pengaruh histamin dapat menganggu berbagai organ tubuh lainnya meski insidennya tidak banyak. Tetapi yang pihak lain bependapat bahwa berbagai pakar dari berbagai keahlian tidak setuju dengan berbagai tanda dan gejala tersebut dikaitkan dengan alergi makanan. Tetapi akhirnya salah satu pihak mengalah untuk tidak memper panjang kontroversi ini demi kesejawatan.
  • Seorang penderita kejang yang berlangsung selama sepuluh tahun dengan minum berbagai obat anti kejang tidak membaik. Dalam pemeriksaan laboratorium, CT scan dan EEG dalam batas normal. Berbagai dokter ahli persarafan di Indonesia bahkan di Singapura di bidangnyapun masih terjadi beda pendapat. Sebagian menyarankan minum obat kejang sebagian dokter lainnya obat kejang tidak perlu.  Ketika dilakukan evaluasi ternyata penderita mengalami gangguan alergi makanan dan dicurigai bahwa sangat mungkin gangguan kejang karena berkaitan dengan alergi makanan. Saat dilakukan elminasi provokasi makanan terbukti gejala alergi saluran cerna membaik dan keluhan kejang membaik tanpa pengobatan anti kejang. Saat itu penderita melakukan elminansi provokasi makanan dengan ketat selama 2 bulan. Tetapi saat mendengar informasi dari dokter ahli lainnya bahwa makanan tidak berkaitan dengan gejala tersebut penderita melepas lagi program eliminasi provokasi makanan. Ketika melakukan konsultasi ulang ternyata setelah 2 bulan paska menarik diri dari program elimnasi provokasi tersebut gejala kejang tersebut hilang timbul lagi dengan berganti-ganti obat tetapi responnya tidak membaik seperti yang diharapkan.
  • Perbadaan pendapat yang tajam itu juga terjadi dikalangan awam.  Seorang ibu yang pernah punya pengalaman bahwa makanan mengganggu berbagai permasalahan kesehatan anaknya seperti sering sakit, sulit BAB, sering muntah atau gangguan kulit. Tetapi kakek, nenek, atau saudaranya yang tidak mengalami sendiri fakta gangguan yang terjadi pada anaknya seringkali sinis dan menganggap bahwa hal itu aneh dan tidak yakin bahwa hal itu memang terjadi. Sehingga seringkali membuat perbedan dan pertentangan pendapat yag tajam antara orangtua dan nenek atau kakek penderita.

Dalam abad terakhit ini sebenarnya banyak sekali fakta ilmiah berdasarkan beberapa  penelitian ilmiah belakangan telah terungkap bahwa alergi makanan menimbulkan komplikasi yang cukup mengganggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sudah ada tersebut. Meski berbagai peneilitian klinis juga mengungkapkan hal tersebut ternyata terdapat juga sebagian penelitian klinis yang tidak sependapat bahwa berbagai kelainan tersebut tidak berkaitan dengan alergi.

Memang sampai saat ini bahkan di negara sudah majupun banyak gangguan alergi tidak disadari bahkan oleh sebagian dokter. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa berbagai keluhan yang dia alami atau yang dialami anaknya itu adalah gejala alergi.  Resource (Marketing Research) Limited  melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, tahun 2000  dilaporkan  lebih dari 50% orang dewasa menderita alergi makanan. Sekitar 70% penderita  alergi baru mengetahui kalau ia mengalami  alergi setelah lebih dari 7 tahun. Sekitar 50% orang dewasa mengetahui penyebab gejala alergi setelah 5 tahun, bahkan terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Sebanyak 80% penderita alergi mengalami gejala seumur hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa di negara maju seperti Inggrispun para dokter terlambat mendiagnosis alergi apalagi di Indonesia. Ternyata para dokter di Inggrispun menganggap bahwa selama ini berbagai gangguan yang ada tidak berkaitan dengan alergi.

Berbagai gangguan alergi atau hipersensitifitas makanan tersebut adalah gangguan fungsional sehingga dianggap normal dan dikatakan dengan pertambahan usia akan membaik. Mungkin saja saja sebagian pendapat tersebut benar. Memang penderita alergi makanan terutama yang mengganggu saluran cerna dan ssusunan saraf pusat mengalami gangguan fungsional. Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Bahkan beberapa dokter menganggap bahwa gangguan tersebut dipengaruhi karena stres. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik. Memang gangguan fungsional pada umumnya adalah masalah imaturitas atau ketidakmatangan sistem tubuh, karena dengan pertambahan usia setelah usia 2 hingga 7 tahun akan membaik. Meski ada yang masih mengalami hingga usia 12 tahun dan sebagian masih mengalami hingga dewasa meski dengan tingkat gangguan yang berkurang. Tetapi bukan berarti harus menunggu sampai usia tertentu membaik karena bila dilakukan elminasi provokasi makanan untuk mencari penyebab makanan penyebabnya gangguan tersebut akan membaik.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran dan teknologi kedokteran, namun kejadian alergi justru meningkat pesat, dan semakin banyak yang masih misterius belum terungkap. Banyak klinisi memvonis alergi pada penderita tetapi tidak bisa mengadviskan dengan pasti penghindaran penyebab karena kesulitan terbesar penanganan alergi adalah mencari penyebabnya.

Alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dan hipersensitivitas makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan Autism.

Bila melihat demikian luasnya gangguan yang terjadi dan banyaknya organ yang terganggu, tampaknya alergi dan hipersensitivitas makanan adalah suatu “gangguan sistemik”. Dapat dimaklumi bila ada pendapat, bahwa ungkapan itu terlalu berlebihan karena semua keluhan selalu dikaitkan dengan alergi dan hipersensitifitas makanan. Namun pendapat ini akan sirna, bila banyak penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mengungkapkan, memang benar bahwa gangguan dan keluhan tersebut memang terjadi pada dirinya.  Secara ilmiahpun hal ini didukung oleh penelitian ilmiah dan laporan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu yang mengaitkan bahwa berbagai gejala tersebut penyebabnya adalah alergi. Habnya seringkali terjadi kontroversi yang berlebihan antara sesama dokter dan orangtua karena alergi dan hipersensitivitas makanan hanya bisa ditegakkan diagnosisnya dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis klinis adalah mengamati secara cermat tanda dan gejala yang timbul berkaitan dengan pemberian makanan yang diberikan melalui anamnesa (menanyakan secara cermat semua keluhan) dan pemeriksaan fisaik oleh dokter.

Dalam beberapa puluh tahun lamanya mungkin sering dihadapi oleh masyarakat pada umumnya, masih sering terjadi kontroversi tentang penyakit alergi dan hipersensitifitas makanan. Sering terjadi bukan hanya pada orang awam di kalangan dokterpun masih banyak terjadi perbedaan pendapat. Seorang penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mendapat advis dari seorang dokter untuk menghindari makanan tertentu untuk mengurangi keluhan penyakitnya. Tetapi dokter lainnya mengatakan tidak perlu menghindari makanan tersebut, karena makanan tidak berhubungan dengan penyakitnya. Sebagian dokter berpendapat, bahwa gejala alergi dan hipersensitivitas makanan jarang ditemukan.  Ada pendapat alergi dan hipersensitivitas makanan hanya berkaitan dengan sedikit penyakit dan sangat jarang menyangkut bahan makanan.

Makanan yang diakui sebagai penyebab alergi masih sangat terbatas misalnya gluten susu dan ikan. Sedangkan kubu dokter lain berpendapat alergi dan hipersensitivitas makanan sangat umum dan bersembunyi dibalik berbagai kelainan yang hingga sekarang tak dapat disembuhkan, seperti radang sendi (artritis), eksim (dermatitis atau alergi kulit), migren (sakit kepala sebelah). Mereka ingin mengungkapkan bahwa seluruh permasalahan kesehatan dapat dicetuskan dan disembuhkan dengan penanganan alergi dan hipersensitivitas makanan. Timbul pendapat bahwa penyebab alergi makanan tidak dibatasi, semua jenis makanan atau minuman dapat dianggap sebagai penyebab alergi.

Bahkan bahan bukan makanan dapat menyebabkan alergi seperti semprotan rambut, uap obat nyamuk, uap bensin, plastik dan semua bahan kimia yang potensial mengganggu dalam lingkungan kita. Penyebab alergi lainnya yang sudah lama diyakini dan tidak disangsikan lagi adalah debu, kutu, bulu binatang, serbuk sari atau bulu unggas lainnya.

Suasana perbedaan pendapat tersebut jauh dari suasana kekeluargaan dan jauh dari rasa etika kesejawatan. Sehinggga seringkali timbul ungkapan dari berbagai pihak terdaap pihak lainnya dengan ucapan seperti “tak terbukti”, “berbahaya”, “orientasi obat”, “berpikiran sempit”, “tidak ilmiah” atau “tidak kompeten” secara tak sadar secara langsung diterima oleh pasien. Jika para pakar medis sudah berbeda pendapat secara tajam, maka orang awam menjadi bingung karena pendapat berbagai dokter berlainan. Dalam menghadapi kontroversi ini tidak heran bila masyarakat semakin bingung tak tahu harus minta bantuan kemana. Fakta ilmiah dan data penelitian telah banyak menunjukkan bahwa ternyata makanan tertentu dapat menyebabkan berbagai gangguan yang selama ini tidak diperkirakan banyak orang. Ternyata, makanan yang bergizi setinggi apapun dan selezat apapun ternyata dapat merugikan mengganggu tubuh manusia yang sebaliknya dapat mengakibatkan berbagai gangguan fungsi tubuh.

Berbagai gangguan dan sistem tubuh telah disepakati sebagai akibat pengaruh makanan. Tetapi sebaliknya justru telah menjadi kontroversi baik masyarakat awam maupun sesama dokter bahwa ternyata berbagai makanan sebagai penyebab gangguan tubuh manusia. Hal itu terjadi karena untuk memastikan pengaruh makanan terhadap tubuh bukan berdasarkan tes alergi atau pemeriksaan laboratorium semata tetapi berdasarkan diagnosis klinis yang di bidang medis di sebut chalenge test atau eliminasi provokasi makanan.

Tidak hanya dalam alergi makanan, tampaknya kontroversi itu adalah hal yang biasa seperti hal penyakit lainnya di bidang kedokteran. Biasanya bila untuk memastikan diagnosis suatu penyakit atau kelainan hanya berdasarkan diagnosis klinis seringkali akan menimbulkan banyak kontroversi krena subyektifitasnya sangat tinggi. Contoh tersebut adalah dalam diagnosis Autism, ADHD, dan diagnosis gangguan fungsional lainnya yang dalam pemeriksaan imunopatobiologis normal. Hal ini mengakibatkan bahwa ADHD adalah wrong doagnosis terbesar di Amerika Serikat. Kondisi tersebut juga mengakibatkan mengapa seorang gangguan perilaku yang sama didiagnosis yang berbeda oleh 5 dokter yang berbeda. Beragamnya diagnosis kepada anak yang sama tersebut seperti diagnosis Autis, Autism Ringan, Bukan Autis, PDD NOS atau ADHD. Padahal klinisi yang mendiagnosisnya adalah sudah berkopeten di bidangnya. Tetapi bila dasar diagnosis tersebut parameternya disertai laboratorium dan pemeriksaan penunjang maka perbedaan pendapat tersebut semakin jarang. Misalnya diagnosis Hepatitis B, Hipertensi, Sindrom Nefrotik (kelainan ginjal) atau Diabetes Melitus maka dalam mendiagnosisnya relatif tidak menimbulkan perbedaan persepsi.

Sumber Kontroversi

  • Di bidang ilmu kedokteran telah disepakati secara ilmiah bahwa untuk memastikan penyebab alergi adalah dengan eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi. Tes alergi hanya membantu diagnosis bukan memastikan penyebab alergi. Tetapi kesepakatan ilmiah yang seharusnya tidak terbantahkan ini sering diabaikan dan menjadi sumber berbagai kontroversi yang ada
  • Penyebab lain perbedaan pendapat ini adalah sulitnya untuk memastikan penyebab alergi dengan melakukan eliminai provokasi makanan. Gold Standart atau standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah DBPCFC (Double Blind Placebo Chalenge Food Control). Tetapi karena relatif rumit timbul beberapa modifikasi Chalenge test atau eliminasi provokasi makanan yang kelihatan mudah tetapi sulit ini seringkali tidak pernah dilakukan oleh klinisi dan sebagian ahli alergi untuk memastikan penyebab alergi makanan.
  • Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik.
  • Penelitian berbagai manifestasi klinis dan pengaruh alergi makanan masih belum banyak terungkap jelas. Sampai saat ini keterkaitan berbagai manifestasi klinis gangguan fungsi tubuh dengan alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya masih relatif sulit dibuktikan secara ilmiah. Dalam penelitian ilmiah penelitian klinis adalah mempunyai kualitas penelitian yang tidak lebih baik dibandingkan penelitian yang diukur dengan parameter imunopatobiologis. Padahal diagnosis alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya berdasarkan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium imunopatobiologis Hal inilah yang mengakibatkan bahwa keterkaitan manifestasi klinis dengan alergi makanan sulit dibuktikan dengan standard ilmiah yang lebih baik. Pada umumnya dasar diagnosis penelitian alergi makanan dan hipersensitifita lainya yang membuktikan ketidakbermaknaannya hubungan tersebut dibuat bukan berdasarkan eliminasi provokasi tetapi berdasarkan parameter tes alergi dan laboratorium penunjang. Sehingga kesimpulan yang dibuatpun menjadi lemah. Seharusnya penelitian dampak alergi makanan atau manifestasi alergi makanan berdasarkan eliminasi provokasi makanan bukan berdasarkan parameter laboratorium atau pemeriksaan ts alergi. Di masa datang permasalahan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan akan lebih terungkap dengan jelas bila penelitian klinis eliminasi provokasi makanan disertai perubahan klinis dan perubahan biomolekular.
  • Sebagian dokter bahkan masih mendewakan tes alergi sebagai cara untuk mencari memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan. Hal ini tampak dengan banyak pendapat dari beberapa dokter bahwa ketika seseorang dipastikan menderita alergi makanan dan hipersensitifitas makanan dengan eliminasi provokasi masih disangsikan ketika belum dilakukan tes alergi. Padahal justru angka kejadian alergi makanan lebih sedikit dibandingkan hipersensittifitas makanan lainnya. Secara umum penderita alergi makanan adalah berkisar 4-9% tetapi diduga angka kejadian hipersensitifita makanan lainnya sepuluh kali lipat dibandingkan penderita alergi makanan. Tes alergi memang diperlukan untuk diagnosis tetapi untuk memastikannya harus dikonfirmasi lagi dengan eliminasi provokasi atau chalenge test.

Sumber Kontroversi lainnya

  • Pada umumnya gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan merupakan gangguan fungsional sistem tubuh. Gangguan fusngsional sistem tubuh mempunyai karakteristik oragan tubuh yag terlibat sering dianggap normal dan dalam pemeriksaan penunjangpun tidak ditemukan kelainan. Sehingga saat dilakukan pemeriksaan penunjang apapun seperti USG, CT Scan, MRI, EEG atau pemeriksaan lainnya pada organ tubuh adalah normal. Bila dikatakan normal sering timbul pertanyaan pada penderta. Mengapa dikatakan normal, padahal saya sangat menderita setiap hari dan berlangsung demikian lama. Dalam kedaan seperti ini biasanya setiap dokter yang memeriksa akan memeberikan pendapat yang bebeda tentang penyebabnya, bahkan sebagian dokter mengatalkan jujur tidak tahu penyebabnya. Beberapa dokter yang mencoba berspekulasi memberikan penilaian tentang penyebab kelainan tersebut biasanya jawaban seputar stres, masuk angin, terlalu capek dan masih bayak penyebab lainnya yang secara ilmiah kadang tidak sesuai. Sehingga saat wajar ketika pasien mengeluhkan gangguan yang selama ini diderita kepada tiga atau lima dokter pendapatnya akan berbeda. Hal ini akan membuat penderita semakin frustasi. Bila penyebabnya masih simpang siur maka akan berimbas pada terapinya akan juga tidak akan pernah fokus pada penyebabnya. Hal inilah yang juga mengakibatkan penderita gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan menjadi berkepanjangan hilang timbul terus menerus dengan berpindah-pindah dokter.
  • Berdasarkan beberapa fakta ilmiah belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup menggaggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sdah ada tersebut.
  • Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun mungkin sudah dapat terdeteksi. Alergi dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan Anak secara menyeluruh. Sehingga “overtreatment” dan “overdiagnosis” yang diberikan terhadap penderita alergi dapat dicegah sedini mungkin. Akhirnya komplikasi yang ditimbulkan khususnya dalam ganguan otak dan gangguan perilaku juga dapat dicegah lebih dini.

Berbagai pendapat dalam kontroversi itu adalah Kesulitan memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan yang seharusnya berdasarkan klinis ini mengakibatkan melebarnya perbedaan pandangan di bidang lainnya. Kontroversi tersebut adalah :

  • Pendapat ekstrim sebagian dokter yang mengatakan bahwa belum di tes dan diperiksa laboratorium tetapi sudah dipastikan alergi
  • Beberapa dokter berulang kali mengatakan bahwa penyebab alergi makanan terbesar di Jakarta adalah udang dan ikan laut, karena berdasarkan tes kulit alergi. Padahal tes kulit bukan untuk memastikan penyebab alergi makanan. Seharusnya yang benar adalah “kemungkinan” penyebab alergi adalah udang. Karena, belum tentu berbagai hasil tes kulit yang negatif adalah bukan penderita alergi makanan bahan yang di tes tersebut.
  • Setiap ada tanda dan gejala alergi pada bayi selalu saja anak langsung dianjurkan pemberian susu hipoalergenik parsial, padahal belum tentu anak alergi susu sapi. Hal lain yang tidak berkaitan bahwa pemberian susu hipoalergenik parsial bukan sebagai pemgobatan alergi susu sapi tetapi sebagai pencegahan alergi. Pencegahan adalah bila anak tidak ada gejal;a alergi untuk mencegah alergi harus menggunakan susu hipoalergenik parsial, tetapi kalau ada gejala harus diamati apakah alergi susu sapi atau tidak.
  • Setiap ada tanda dan gejala alergi bahkan beberapa dokter langsung memvonis alergi susu sapi dan diadviskan dengan pemberian susu hipoalergeenik ekstensif atau soya, padahal 6 bulan sebelumnya menggunakan susu sapi tidak masalah.
  • Pemeriksaan alergi dengan tes alternatif yang tidak diakui oleh berbagai institusi kesehatan internasional dan tidak terbukti secara ilmiah seperti bioresonansi, IgG4 (yang dikirim ke Amerika) dan berbagai tes unproven lainnya
  • Penanganan langkah awal penderita alergi adalah mendeteksi penyebab dan menghindarinya. Tetapi karena berbagai kesulitan langkah awal ini diabaikan tetapi langsung masuk ke langkah berikutnya dengan pengobatan dan pencegahan alergi dengan obat-obatan.
  • Berbagai hal gejala dan gangguan fungsi tubuh disebabkan alergi dan hipersensitifitas makanan lainnya sering disangkal. Tetapi justru penyangkalan tersebut tanpa data ilmiah untuk membuktikan memang tidak berhubungan. Tetapi justru penelitian awal yang sudah semakin banyak bahkan tetap masih dipandang sebelah mata karena memang didoinasi penelitian klinis.
  • Pemakaian obat-obatan untuk profilaksis alergi makanan baik dengan ketotifen (profilas) atau obat alergi lainnya yang tidak terbukti sebagai pencegahan.
  • Sebenarnya fakta makanan dapat mengakibatkan berbagai manifestasi penyakit sudah diyakini beberapa praktisi kesehatan sejak lama. Hanya karena keterkaitan masalah tersebut belum dapat dibuktikan secara klinis tentang penyebabnya maka juga timbul berbagai perbedaan pandangan.
  • Berbagai pendekatan diet yang dianggap tidak seuai manifestasi imunopatobiologis bidang kedokteran di antaranya adalah :
  1. Diet berdasarkan Golongan darah
  2. Diet rotasi
  3. Diet Asam basa

Angka kejadian alergi dan hipersensitifitas makanan terus meningkat tajam dalam dekade terakhir ini. Terdapat kecenderungan alergi pada anak, merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan pelayanan Kesehatan Anak. Perhatian dan penanganan alergi pada anak masih belum optimal, bahkan sering terjadi keterlambatan penanganan. Tampak pada orang tua penderita alergi baru menyadari bahwa anaknya menderita alergi setelah sekian tahun lamanya anaknya menderita sakit yang berulang dan telah berganti-ganti dokter.

Cara menyikapinya

  • Serperti kontroversi alergi makanan lainnya, kaitan Autism  dan alergi adalah kontroversi terbesar bagi masyarakat awam dan klinisi.  Permasalahan alergi makanan adalah kontroversi yang sangat tajam tersebut bukan hanya membingungkan para dokter tetapi pasienpun akan lebih bingung dalam menerima perbedaan pendapat para dokter tersebut. Untuk menyikapi hal tersebut sebenarnya buklan dengan langsung memvonis dokter satu paling benar atau dokter lain salah. Tetapi dipihak klinisi atau organisasi profesi harus membuat forum disikusi dan kalau perlu membuat workshop atau debat ilmiah untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau sudah sepakat maka para klinisi tersebut melalui organisasi profesi mengeluarkan rekomendasinya. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran fakta ilmiah sesuai Evidance Base Medicine. Bukan berdasarkan opini pakar atau profesor tanpa mempertimbangkan fakta ilmiah yang ada.
  • Bagi klinisi yang berseberang pendapat memang wajar terjadi tetapi harus berdasarkan fakta ilmiah dari pengalaman klinis berbasis bukti dengan didasari oleh berbagai penelitian. Tetapi sebaiknya bila klinisi tersebut tidak berbekal data ilmiah tetapi langsung membuat kontroversi semakin panas sangat disayangkan karena penyelesaian perbedaan pendapat tersebut harus diselesaikan dengan cara ilmiah bukan dengan debat tidak ilmiah.
  • Sedangkan di pihak pasien atau orangtua pasien dalam menyikapi hal ini harus secara obyektif. Bila orangtua atau pasien ragu dengan berbagai kontroversi tersebut maka sebaiknya ikuti langkah eliminasi provokasi atau chalenge test di bawah pengawasan dokter ahli. Bila berbagai gangguan yang ada membaik maka sebaiknya penderita harus percaya dengan fakta yang ada, bahwa alergi dapat mengganggu berbagai organ tubuh yang ada termasuk memperberat tanda dan gejala Autism yang sudah ada. Bila fakta tersebut ada, bukan berarti harus mengatakan dokter satu paling benar atau menyalahkan pendapat dokter lainnya bahwa dokter yang lain salah. Bahwa memang kebenaran ilmiah tersebut akan terjadi seiring dengan berjalannya waktu yang membutuhkan proses ilmiah alamiah yang panjang

Referensi

1.Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988. 2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut 3. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual. 4. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156. 5. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14 6. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-71 7. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33 8. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2 9. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3. 10. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613 11. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177. 12. Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41. 13. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37. 14. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775. 15. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81. 16. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103. 17. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90. 18. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5 19. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177. 20. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342. 21. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone. 22. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour. 23. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy. 24. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections. 25. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003 26. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64. 27. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child 28. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500. 29.Feeding symptoms, dietary patterns, and growth in young children with autism spectrum disorders. Emond A, et al. Pediatrics. 2010. 30. The review of most frequently occurring medical disorders related to aetiology of autism and the methods of treatment. Cubala-Kucharska M, et al. Acta Neurobiol Exp (Wars). 2010. 31. Evaluation, diagnosis, and treatment of gastrointestinal disorders in individuals with ASDs: a consensus report. Buie T, et al. Pediatrics. 2010, 32.To test or not to test: parent information for discussions of food allergy and autism. Malloy C, et al. Del Med J. 2009.33.Substitutive and dietetic approaches in childhood autistic disorder: interests and limits]. Hjiej H, et al. Encephale. 2008..34. Autism and gastrointestinal disease: a different point of view]. No authors listed. Pediatr Med Chir. 2008..35. Complementary and alternative medical therapies for attention-deficit/hyperactivity disorder and autism. Weber W, et al. Pediatr Clin North Am. 2007.36. Diet and child behavior problems: fact or fiction? Cormier E, et al. Pediatr Nurs. 2007.37. Diet, immunity, and autistic spectrum disorders. Murch S, et al. J Pediatr. 2005.38. Dysregulated innate immune responses in young children with autism spectrum disorders: their relationship to gastrointestinal symptoms and dietary intervention. Jyonouchi H, et al. Neuropsychobiology. 2005.39. Innate immunity associated with inflammatory responses and cytokine production against common dietary proteins in patients with autism spectrum disorder. Jyonouchi H, et al. Neuropsychobiology. 2002.40.Phenotypic variation in xenobiotic metabolism and adverse environmental response: focus on sulfur-dependent detoxification pathways. McFadden SA, et al. Toxicology. 1996.41. Food allergy and infantile autism. Lucarelli S, et al. Panminerva Med. 1995.42. Risks with controlling diet. Banov CH, et al. J Autism Dev Disord. 1979.43. Disruptive behavior: a dietary approach. O’Banion D, et al. J Autism Child Schizophr. 1978.44.Malabsorption and cerebral dysfunction: a multivariate and comparative study of autistic children. Goodwin MS, et al. J Autism Child Schizophr. 1971. 45. Immunological characterization and transcription profiling of peripheral blood (PB) monocytes in children with autism spectrum disorders (ASD) and specific polysaccharide antibody deficiency (SPAD): case study. Jyonouchi H, et al. J Neuroinflammation. 2012. 46. Brief report: “allergic symptoms” in children with Autism Spectrum Disorders. More than meets the eye? Angelidou A, et al. J Autism Dev Disord. 2011. 47. Elevated plasma cytokines in autism spectrum disorders provide evidence of immune dysfunction and are associated with impaired behavioral outcome. Ashwood P, et al. Brain Behav Immun. 2011. 48. Impaired carbohydrate digestion and transport and mucosal dysbiosis in the intestines of children with autism and gastrointestinal disturbances. Williams BL, et al. PLoS One. 2011. 49. Pathways underlying the gut-to-brain connection in autism spectrum disorders as future targets for disease management. de Theije CG, et al. Eur J Pharmacol. 2011.50.Large-scale methylation domains mark a functional subset of neuronally expressed genes. Schroeder DI, et al. Genome Res. 2011. 51 A clear look at the neuroimmunology of multiple sclerosis and beyond. Selmi C, et al. Autoimmun Rev. 2012 Increased serum osteopontin levels in autistic children: relation to the disease severity. Al-ayadhi LY, et al. Brain Behav Immun. 2011. 52. Current Molecular Medicine. Li DW, et al. Curr Mol Med. 2011 Intrauterine inflammation, insufficient to induce parturition, still evokes fetal and neonatal brain injury. Elovitz MA, et al. Int J Dev Neurosci. 2011. 53.Increased serotonin axons (immunoreactive to 5-HT transporter) in postmortem brains from young autism donors. Azmitia EC, et al. Neuropharmacology. 2011

 

www.klinikautis.com

Provided By: KLINIK AUTIS ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, KLINIK AUTIS Information Education Network. All rights reserved

Diet, Alergi Makanan dan Autism

Diet, Alergi Makanan dan Autism

ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM TETAPI SEBAGAI PEMICU ATAU MEMPERBERAT AUTISM

Dr Widodo Judarwanto SpADipresentasikan pada seminar AUTISM UPDATE DI HOTEL NOVOTEL Jakarta tanggal 9 September 2005

ABSTRAK

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi tampaknya dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak dan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hiperaktif (ADHD) hingga memperberat gejala Autisme. Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku pada autisme dapat dikurangi. Deteksi gejala alergi dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini pada anak harus dilakukan. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap autisme atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan alergi dan autisme sejak dini.

1. PENDAHULUAN

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autisme. Autisme dan berbagai spektrum gejalanya adalah gangguan perilaku anak yang paling banyak diperhatikan dan kasusnya ada kecenderungan meningkat dalam waktu terakhir ini. Autisme diyakini beberapa peneliti sebagai kelainan anatomis pada otak secara genetik.

Terdapat beberapa hal yang dapat memicu timbulnya autism tersebut, termasuk pengaruh makanan atau alergi makanan. Pemeriksaan untuk mencari penyebab alergi makanan sangat beragam dilakukan oleh beberapa klinisi. Meskipun sebenarnya “gold standard” atau standar baku untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge = DBPCFC). Sehingga banyak kasus penderita alergi makanan, menghindari makanan penyebab alergi makanan berdasarkan banyak pemeriksaan penunjang hasilnya tidak optimal. Akhirnya gejala alergi dan komplikasi yang terjadi termasuk gangguan perilaku khususnya autisme seringkali sulit diminimalkan.

2.ALERGI MAKANAN

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV. Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.

Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan. Reaksi simpang makanan (Adverse food reactions) Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap alergi makanan atau intoleransi makanan. Alergi makanan (Food Allergy) Alergi makanan adalah reaksi imunologis (kekebalan tubuh) yang menyimpang karena masuknya bahan penyebnab alergi dalam tubuh. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1.

Intoleransi Makanan (Food intolerance) Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi lactase, maltase atau respon idiosinkrasi pada pejamu. Menurut cepat timbulnya reaksi maka alergi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan alergi. Reaksi Lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah makan bahan penyebab alergi.

3. MEKANISME TERJADINYA ALERGI MAKANAN

Struktur limfoepiteal usus yang dikenal dengan istilah GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissues) terdiri dari tonsil, patch payer, apendiks, patch sekal dan patch koloni. Pada keadaan khusus GALT mempunyai kemampuan untuk mengembangkan respon lokal bersamaan dengan kemampuan untuk menekan induksi respon sistemik terhadap antigen yang sama. Pada keadaan normal penyerapan makanan,merupakan peristiwa alami sehari-hari dalam sistem pencernaan manusia. Faktor-faktor dalam lumen intestinal (usus), permukaan epitel (dinding usus) dan dalam lamina propia bekerja bersama untuk membatasi masuknya benda asing ke dalam tubuh melalui saluran cerna. Sejumlah mekanisme non imunologis dan imunologis bekerja untuik mencegah penetrasi benda asing seperti bakteri, virus, parasit dan protein penyebab alergi makanan ke dinding batas usus (sawar usus).

Pada paparan awal, alergen maknan akan dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya mengekspresikan pada sel-T secara langsung atau melalui sitokin. Sel T tersensitisasi dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. Alergen yang intak akan diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan orgalimfoid usus. Pada umumnya anak-anak membentuk antibodi dengan subtipe IgG, IgA dan IgM. Pada anak atopi terdapat kecenderungan lebih banyak membentuk IgE, selanjutnya mengadakan sensitisasi sel mast pada saluran cerna, saluran napas, kulit dan banyak oragan tubuh lainnya. Sel epitel intestinal memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan dan pola pengambilan antigen yang tertelan. Selama terjadinya reaksi yang dihantarkan IgE pada saluran cerna, kecepatan dan jumlah benda asing yang terserap meningkat. Benda asing yang larut di dalam lumen usus diambil dan dipersembahkan terutama oleh sel epitel saluran cerna dengan akibat terjadi supresi (penekanan) sistem imun atau dikenal dengan istilah toleransi. Antigen yang tidak larut, bakteri usus, virus dan parasit utuh diambil oleh sel M (sel epitel khusus yang melapisi patch peyeri) dengan hasil terjadi imunitas aktif dan pembentukan IgA. Ingesti protein diet secara normal mengaktifkan sel supresor TCD8+ yang terletak di jaringan limfoid usus dan setelah ingesti antigen berlangsung cukup lama. Sel tersebiut terletak di limpa. Aktivasi awal sel-sel tersebut tergantung pada sifat, dosis dan seringnya paparan antigen, umur host dan kemungkinan adanya lipopolisakarida yang dihasilkan oleh flora intestinal dari host. Faktor-faktor yang menyebabkan absorpsi antigen patologis adalah digesti intraluminal menurun, sawar mukosa terganggu dan penurunan produksi IgA oleh sel plasma pada lamina propia.

FAKTOR GENETIK  Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Bila ada orang tua menderita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 20 – 40%, ke dua orang tua alergi resiko meningkat menjadi 40 – 80%. Sedangkan bila tidak ada riwayat alergi pada kedua orang tua maka resikonya adalah 5 – 15%. Pada kasus terakhir ini bisa saja terjadi bila nenek, kakek atau saudara dekat orang tuanya mengalami alergi. Bisa saja gejala alergi pada saat anak timbul, setelah menginjak usia dewasa akan banyak berkurang.

IMATURITAS USUS Alergi makanan sering terjadi pada usia anak dibandingkan pada usia dewasa. Fenomena lain adalah bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami alergi makanan tetapi dalam pertambahan usia membaik. Hal itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna pada anak.

Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur (tidak matang) sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Pada bayi baru lahir sel yang mengandung IgA, Imunoglobulin utama di sekresi eksternal, jarana ditemui di saluran cerna. Dalam pertambahan usia akan meningkat sesuai dengan maturasi (kematangan) sistem kekebalan tubuh. Dilaporkan persentasi sampel serum yang mengandung antibodi terhadap makanan lebih besar pada bayi berumur kurang 3 bulan dibandingkan dengan bayi yang terpapar antigen setelah usia 3 bulan. Penelitian lain terhadap 480 anak yang diikuti secara prospektif dari lahir sampai usia 3 tahun. Sebagian besar reaksi makanan terjadi selama tahun pertama kehidupan.

PAJANAN ALERGI Pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, telur dan susu. Pajanan juga terjadi pada masa bayi. Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama kehidupan. Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi ibu akan sangat berpengaruh pada anak yang mempunyai bakat alergi. Pemberian PASI meningkatkan angka kejadian alergi

4. PENYEBAB DAN PENCETUS ALERGI MAKANAN

Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier. Perlakuan fisik misalnya pemberian panas dan tekanan dapat mengurangi imunogenisitas sampai derajat tertentu. Pada pemurnian ditemukan allergen yang disebut sebagai Peanut-1 suatu glikoprotein dengan berat molekul 180.000 dalton. Pemurnian pada udang didapatkan allergen-1 dan allergen-2 masing-masing dengan berat molekul 21.000 dalton dan 200.000 dalton. Pada pemurnian alergen pada ikan diketahui allergen-M sebagai determinan walau jumlahnya tidak banyak. Ovomukoid ditemukan sebagai alergen utama pada telur.

Pada susu sapi yang merupakan alergen utama adalah Betalaktoglobulin (BLG), Alflalaktalbumin (ALA), Bovin FERUM Albumin (BSA) dan Bovin Gama Globulin (BGG). Albumin, pseudoglobulin dan euglobulin adalah alergen utama pada gandul. Diantaranya BLG adalah alergen yang paling kuat sebagai penyabab alergi makanan. Protein kacang tanah alergen yang paling utama adalah arachin dan conarachi. Beberapa makanan yang berbeda kadang menimbulkan gejala alergi yang berbeda pula, misalnya pada alergi ikan laut menimbulkan gangguan kulit berupa urtikaria, kacang tanah menimbulkan gangguan kulit berupa papula (bintik kecil seperti digigit serangga) atau furunkel (bisul). Sedangkan buah-buahan menimbulkan gangguan batuk atau pencernaan. Hal ini juga tergantung dengan organ yang sensitif pada tiap individu. Meskipun demikian ada beberapa pakar alergi makanan yang berpendapat bahwa jenis makanan tidak spesifik menimbulkan gejala tertentu.

Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan. Hal ini ditunjukkan pada seorang penderita autisme yang mengalami infeksi saluran napas, biasanya gejala alergi akan meningkat. Selanjutnya akan berakibat meningkatkan gangguan perilaku pada penderita. Fenomena ini sering dianggap penyebabnya adalah karena pengaruh obat.

Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Tanpa paparan alergi maka faktor pencetus tidak akan terjadi. Bila anak mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila anak mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin pada anak adalah tidak sepenuhnya benar.

5. GEJALA ALERGI MAKANAN

Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga autism. Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya diare selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Bagaimana keluhan yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar organ sasaran pada organ tubuh.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA ANAK

    • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
    • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
    • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
    • TANDA LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
    • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari
    • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
    • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
    • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
    • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
    • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA ANAK ( “BRAIN ALLERGY” – CEREBRAL ALLERGY)

    • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
    • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
    • GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,,mimpi buruk, “beradu gigi”
    • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
    • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
    • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
    • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
    • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
    • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
    • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
    • Memperberat gejala AUTIS dan ADHD

5. HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN AUTISME

Autism adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autism hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autisme. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa Autisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan autism dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi alergi.

Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan autism berkaitan erat dengan alergi. Menage P tahun 1992 mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE dengan penderita Autism. Obanion dkk, tahun 1987 melaporkan setelah melakukan eliminasi makanan beberapa gejala autisme dan autisme infantil tampak membaik secara bermakna. Lucarelli dkk, tahun 1995 juga telah melakukan penelitian dengan eliminasi diet didapatkan perbaikkan pada penderita autisme infantil. Didapatkan juga IgA antigen antibodi specifik terhadap kasein, lactalbumin atau beta-lactoglobulin dan IgG, IgM terhadap kasein Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan adanya perbaikan gejala pada anak autism yang menderita alergi, setelah dilakukan penanganan elimnasi diet alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala autism semakin buruk bila manifestasi alergi itu timbul. Penelitian yang dilakukan Vodjani dkk, tahun 2002 menemukan adanya beberapa macam antibody terhadap antigen spesifik neuron pada anak autisme, diduga terjadi reaksi silang dengan protein ensefalitogenik dari susu sapi., Chlamydia pnemoniae dan streptococcus group A.

Penderita Autisme disertai alergi makanan sering mengalami gangguan sistem imun. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya. Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri. Hal ini mengakibatkan penderita autisme sering mengalami gangguan infeksi jamur (candidiasis), infeksi saluran napas dan mudah terkena penyakit infeksi lainnya secara berulang.

6. MEKANISME TERJADINYA PENGARUH ALERGI TERHADAP AUTISME

Mekanisme bagaimana alergi mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi

A. ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN. Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain dan lainnya. Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

B. TEORI METABOLISME SULFAT Seperti pada penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

C. TEORI PENCERNAAN DAN PERUT (ENTERIC NERVOUS SYSTEM DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY) Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :

  • KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
  • TEORI PELEPASAN OPIOID Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.
  • TEORI ABDOMINAL EPILEPSI Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.

D. TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah,

Pada penderita alergi didapatkan penurunan hormon kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan hormon kortisol dapat menyebabkan allergy fatigue stresse (kelelahan atau lemas)., sedangkan penurunan hormon metabolik dapat mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna. Hormon lain yang menurun adalah hormon esterogen. Alergi juga dikaitkan dengan peningkatan hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.

7. PENATALAKSANAAN

Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab alergi sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih. Diantaranya adalah uji kulit alergi, pemeriksaan darah (IgE, RASt dan IgG), Pemeriksaan lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastral melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan.

Selain itu terdapat juga pemeriksaan alternatif untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), Alat Vega (pemeriksaan kulit elektrodermal), Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut, Iridology dan Tes Nadi. PEMERIKSAAN INI ADALAH JENIS PEMERIKSAAN UNCONVENSIONAL Aatau TIDAK TERBUKTI SECARA ILMIAH sehingga INSTITUSI ALERGI INTERNASIONAL (seperti ASCIA (autralia), AAAI (Amerika)

Diagnosis pasti alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya dengan tes alergi baik tes kulit, RAST, Immunoglobulin G atau pemeriksaan alergi lainnya. Pemeriksaan tersebut mempunyai keterbatasan dalam sensitifitas dan spesifitas, Sehingga menghindari makanan penyebab alergi atas dasar tes alergi tersebut seringkali tidak menunjukkan hasil yang optimal.

Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut. Children Family Clinic Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Dalam diet sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab alergi selama 2-3 minggu. Setelah 3 minggu bila keluhan alergi dan gangguan perilaku menghilang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala.

Penanganan alergi makanan dengan gangguan Spektrum Autisme harus dilakukan secara holistik. Beberapa disiplin ilmu kesehatan anak yang berkaitan harus dilibatkan. Bila perlu harus melibatkan bidang Neurologi anak, Psikiater anak, Tumbuh Kembang anak, Endokrinologi anak, Alergi anak, Gastroenterologi anak dan lainnya. Seringkali pendapat dari beberapa ahli tersebut bertentangan sedangkan manifestasi alergi lainnya jelas pada anak tersebut. Maka tidak ada salahnya kita lakukan penatalaksanaan alergi makanan dengan “eliminasi terbuka”. Eliminasi makanan tersebut dievaluasi setelah 3 minggu dengan memakai catatan harian. Bila gejala dan gangguan perilaku penderita Autism tersebut terdapat perbaikkan maka dapat dipastikan bahwa gangguan tersebut dapat diperberat atau dicetuskan oleh alergi makanan. Selanjutnya dilakukan eliminasi provokasi untuk mencari penyebab alergi makanan tersebut satu persatu.

Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam penanganan alergi makanan sesuai dengan pengalaman klinis tiap ahli atau peneliti. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani alergi makanan dan autisme. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab alergi makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard”. Penanganan autisme dengan disertai adanya alergi makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi makanan. Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Pemberian obat anti alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti terdapat kegagalan dalam mengendalikan penyebab alergi makanan.

8. PROGNOSIS

Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi alergi makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena alergi makanan juga akan ikut berkurang. Bila gangguan saluran cerna akan membaik maka biasanya gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang. Selanjutnya pada usia di atas 5 atau 7 tahun alergi makananpun akan berkurang secara bertahap. Perbaikan gejala alergi makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa gejala autismepun biasanya akan tampak mulai berkurang sejak periode usia tersebut. Meskipun alergi makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, kepiting atau kacang tanah.

9. PENUTUP

Permasalahan alergi pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak dan perilaku pada anak. Pengaruh alergi makanan ke otak tersebut adalah sebagai salah satu faktor pemicu dalam memperberat penyakit Autisme. Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autisme. Diagnosis pasti alergi makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan. Selain mengidentifikasi penyebab alergi makanan, penderita harus mengenali pemicu alergi. Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.

Dengan melakukan deteksi gejala alergi dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini maka pengaruh alergi terhadap autisme atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan alergi dan autisme sejak dini.

10. DAFTAR PUSTAKA

1.Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988. 2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut 3. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual. 4. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156. 5. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14 6. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-71 7. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33 8. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2 9. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3. 10. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613 11. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177. 12. Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41. 13. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37. 14. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775. 15. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81. 16. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103. 17. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90. 18. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5 19. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177. 20. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342. 21. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone. 22. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour. 23. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy. 24. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections. 25. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003 26. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64. 27. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child 28. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.

 

 

www.klinikautis.com

Provided By: KLINIK AUTIS ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, KLINIK AUTIS Information Education Network. All rights reserved

“MENCARI MAKANAN PENYEBAB ALERGI PADA PENDERITA AUTISM”

MENCARI PENYEBAB MAKANAN PENYEBAB ALERGI BUKAN DENGAN TES ALERGI, ATAU TES LABORATORIUM TETAPI DENGAN DBPCFC

Dr Widodo Judarwanto SpA

CHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN)
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autis. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa Autis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita.

  • PENANGANAN AUTIS HARUS BERSIFAT HOLISTIK (SECARA MENYELURUH), DIANATARANYA TERAPI OKUPASI, BIOMEDIS DAN PENDEKATAN DIET. BILA DILAKUKAN HANYA SEBAGIAN SERINGKALI TIDAK OPTIMAL.
  • BANYAK PENELITIAN BIDANG BIOMOLEKULAR, SEROTONIK, IMUNOLOGI DAN ENDOKRINOLOGI TERBARU DAN MUTAKHIR MENUNJUKKAN BAHWA DENGAN PENDEKATAN DIET UNTUK MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA SEBAGAI PENYEBAB GANGGUAN FUNGSI OTAK PADA AUTIS DAPAT DIMINIMALKAN. PENDEKATAN DIET DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERLAKU PADA AUTIS.
  • SAYANGNYA KEMAJUAN PENELITIAN YANG ADA INI SERING BAHKAN MASIH MENJADI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS SENDIRI SEHINGGA BANYAK PENDERITA AUTIS SERING MENGALAMI KETERLAMBATAN PENANGANAN ATAU KETIDAKOPTIMALAN PENANGANAN. KARENA BANYAK DOKTER ATAU KLINISI DI BIDANG AUTIS YANG MASIH BELUM PERCAYA DAN MASIH BELUM MAU MENERAPKAN PENDEKATAN DIET TERHADAP PASIENNYA. BAHKAN BANYAK TERJADI ORANGTUA PENDERITA AUTIS MELAKUKAN PENDEKATAN DIET SETELAH BERUSIA 5 TAHUN LEBIH,
  • PADAHAL BILA DILAKUKAN LEBIH DINI AKAN SEMAKIN BAIK.
    KESALAHAN LAIN YANG SERING TERJADI DALAM SEHARI-HARI PENDERITA MELARANG DAN MEMBOLEHKAN BERDASARKAN TES KULIT ATAU TES DARAH. PADAHAL UNTUK MENCARI DAN MEMASTIKAN PENYEBAB HIPERSENSITIVITAS MAKANAN BUKAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN DARAH ATAU TES KULIT.
    KEJANGGALAN LAIN YANG TERJADI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI
  • SEBENARNYA UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DIAGNOSIS KLINIS (MELAKUKAN WAWANCARA DAN PENGAMATAN TERHADAP RIWAYAT DAN GEJALA KLINIS), PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM ITU (SEPERTI MRI, EEG, TES RAMBUT, TES DARAH ALERGI, TES LOGAM BERAT DLL) BUKAN UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN BUKAN YANG UTAMA DALAM PENANGANAN AUTIS.
  • SAYANG SEKALI, DENGAN BIAYA YANG SANGAT MAHAL TERSEBUT TERNYATA MANFAAT KLINIS TIDAK TERLALU BESAR. PEMERIKSAAN TERSEBUT MUNGKIN HANYA PENTING DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN PENELITIAN.
    POLA PENDEKATAN DIET SANGAT BANYAK DAN BERVARIASI, YANG MANA YANG PALING BAIK ?
  • Deteksi gejala alergi atau hipersensitivitas makanan dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini pada anak harus dilakukan. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan sejak dini.
  • SANGATLAH PENTING UNTUK MENGETAHUI DAN MENGENALI GANGGUAN “SALURAN CERNA KRN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” DAN GEJALA AUTIS SEJAK DINI.

    MENGAPA PENDERITA AUTIS HARUS MELAKUKAN DIET ?

  • BANYAK PENELITIAN MENUNJUKKAN TERNYATA KELAINAN SALURAN CERNA YANG TERJADI PADA HAMPIR SEMUA PENDERITA AUTIS SANGAT BERPERANAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI OTAK YANG MENGAKIBATKAN GANGGUAN PERILAKU
  • BERBAGAI PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBAGIAN BESAR PENDERITA AUTIS MENGALAMI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA ATAU MENGALAMI LEAKY GUT (KEBOCORAN SALURAN CERNA).
  • SEBAGIAN AHLI BERPENDAPAT BAHWA GANGGUAN INI SANGAT BERKAITAN DENGAN “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ARTINYA PENGARUH REAKSI MAKANAN TERTENTU YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA TUBUH SENDIRI.
  • MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA TERSEBUT BUKAN HANYA SEKEDAR PEMBERIAN ENSIM DAN OBAT-OBATAN.
  • PEMBERIAN OBAT-OBATAN DAN TERAPI OKUPASI TIDAK AKAN BERPENGARUH OPTIMAL BILA PENGARUH MAKANAN YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTISM TIDAK DIKENDALIKAN.

MENGAPA DIET ATAU GANGGUAN SALURAN CERNA BERPENGARUH PADA OTAK ATAU AUTIS ?

  • Mekanisme bagaimana alergi atau hipersensitivitas makanan mengganggu sistem susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi.
  • Tetapi pada umumnya proses mekanisme terjadinya gangguan tersebut melalui proses penyimpangan proses metabolisme di saluran cerna dan sering terjadi pada penderita “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY”.
  • ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN. Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain (menggangu ke otak) dan organ tubuh lainnya.
  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.
  • TEORI METABOLISME SULFAT. Pada penderita hipersensitvitas makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.
  • TEORI HUBUNGAN PENCERNAAN DAN OTAK (ENTERIC NERVOUS SYSTEM, GUT-BRAIN AXIS DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY). Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :
  • KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE. Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
  • TEORI PELEPASAN OPIOID. Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut. ]
  • TEORI ABDOMINAL EPILEPSI. Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.
  • TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI.Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan, panik, sakit kepala, migraine dan keluhan lainnya.

    APA SAJAKAH GANGGUAN YANG BISA TERJADI AKIBAT PENGARUH MAKANAN?

  • Bila makanan mengganggu saluran cerna secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi fungsi otak, gejala yang bisa timbul adalah :
  • Gangguan neuroanatomis seperti sakit kepala, migraine, vertigo, tick (mata sering berkedip), lumpuh sesaat (salah satu kaki seperti jalan pincang hanaya sesaat), breath holding spel, short memory lost (mudah lupa) atau kejang tanpa disertai gangguan EEG dan CT scan/MRI.
  • Gangguan neurofungsional yang bisa terjadi adalah gangguan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, impulsive, depresi, gangguan konsentrasi, gangguan belajar dan memperberat gejala autism dan ADHD.

 

  • MELIHAT BEBERAPA TEORI DAN FAKTA TERSEBUT TAMPAKNYA PARA ORANGTUA HARUS MEWASPADAI GANGGUAN SALURAN CERNA PADA ANAK TERNYATA DAPAT MEMPENGARUHI OTAK DAN PERILAKU ANAK TERMASUK MEMPERBERAT GANGGUAN PERILAKU YANG SUDAH TERJADI PADA AUTISM DAN ADHD ATAU GANGGUAN PERILAKU LAINNYA

 

APAKAH “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?


“GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY“ atau hipersensitifitas makanan pada saluran cerna adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai sistem saluran cerna yang ditimbulkan oleh reaksi simpang terhadap makanan.
Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan. Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.

REAKSI SIMPANG MAKANAN TERSEBUT TERDIRI DARI :

  1. ALERGI MAKANAN (bereaksi terhadap susu sapi, udang, telor, buah dan sebagainya.
  2. INTOLERANSI MAKANAN (bereaksi terhadap zat warna, pengawet dan zat kimiawi tertentu di dalam makanan)
  3. CELIAC (bereaksi terhadap terigu dan sebagainya)
    ATAU REAKSI HIPERSENSITIVITAS LAINNYA

Menurut cepat timbulnya reaksi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan makanan. Reaksi Lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah makan bahan penyebab reaksi simpang tersebut.

APAKAH TANDA DAN GEJALA “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?

  • GANGGUAN SALURAN CERNA SECARA PRAKTIS SULIT DIKETAHUI, MUNGKIN DENGAN CARA BIOPSI DISERTAI PEMERIKSAAN BIOMOLEKULER PADA SALURAN CERNA PENDERITA AKAN DAPAT DIKETAHUI GANGGUAN TERSEBUT. TETAP PEMERIKSAAN TERSEBUT HANYA DALAM KEGIATAN PENELITIAN. DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI SULIT DILAKUKAN.
  • SECARA MUDAH BISA DIAMATI POLA GANGGUAN BUANG AIR BESAR ANAK : BERAK SULIT (NGEDEN ATAU TIDAK TIAP HARI), FESES WARNA GELAP, KERAS DAN BERBAU TAJAM ATAU CAIR.

 

GEJALA SALURAN CERNA (TERMASUK GIGI/MULUT) LAIN YANG HARUS DIWASPADAI :

PADA BAYI :

  • SALURAN CERNA:Gastrooesephagealrefluks/GER): Sering MUNTAH/gumoh), kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering
  • PADA ANAK YANG LEBIH BESAR : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. SERING BAB 3 kali/hari atau lebih, SULIT BAB, TIDAK BAB TIAP HARI, berat ngeden, kotoran bulat hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin,bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, MULUT BERBAU, air liur berlebihan.

    GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :

  • GANGGUAN KULIT : KULIT : KULIT KERING DAN KASAR, TIMBUL BINTIL kemerahan dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk, Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik/memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Anus dan ujung penis sering merah gatal
  • GANGGUAN ALERGI LAINNYA SEPERTI : SERING PILEK, BATUK, SESAK ATAU ASMA

    APAKAH HIPERSENSITIF SALURAN CERNA TERSEBUT BERSIFAT TURUNAN ?
  • HIPERSENSITIFITAS MAKANAN SANGAT BERAGAM, MESKIPUN TIDAK SEMUA TAPI DIDUGA SEBAGIAN BESAR MENURUN DARI SALAH SATU ORANG TUA TERUTAMA PADA KASUS ALERGI.
  • DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI PENULIS SERING MENEMUKAN SALAH SATU ORANG TUANYA TERUTAMA YANG MEMPUNYAI FISIK (WAJAH) ATAU GOLONGAN DARAH SAMA DENGAN PENDERITA JUGA MEMPUNYAI RIWAYAT PENCERNAAN YANG SENSITIF. GANGGUAN TERSEBUT ADALAH “GEJALA MAG”, SERING MUAL ATAU “MASUK ANGIN”, NYERI PERUT, SULIT BUANG AIR BESAR ATAU MALAH TERLALU GAMPANG BUANG AIR BESAR. DAN YANG MENARIK ORANGTUA TERSEBUT BIASANYA JUGA MEMPUNYAI KELUHAN FUNGSI NEUROFUNGSIONAL OTAK JUGA SEPERTI : MIGRAIN, SERING SAKIT KEPALA ATAU VERTIGO.

BAGAIMANA MENGETAHUI ATAU MEMASTIKAN MAKANAN YANG MENGGANGGU

  • KESULITAN YANG SERING DIALAMI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI ADALAH MENENTUKAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU. BANYAK KONTROVERSI TERJADI : sebagian pendapat bahwa anak autis tidak bolah makan apel, orang tua lainnya bilang boleh makan apel, ahli lain menyarankan tidak boleh minum susu sapi, sedangkan dokter mengadviskan boleh makan semua atau bahkan dokter lain melarang hampir semua makanan.
  • HAL INI MEMBUAT ORANG TUA SEMAKIN BINGUNG.
    BILA MELIHAT TEORI TERSEBUT DI ATAS TAMPAKNYA HAMPIR SEMUA MAKANAN DAPAT MENGGANGGU SALURAN CERNA PENDERITA AUTIS, TETAPI SEBENARNYA TIDAK SEMUA MAKANAN MENGGANGGU PENDERITA AUTIS. SETIAP ANAK BERBEDA DALAM MENGHADAPI REAKSI YANG DITIMBULKAN TERHADAP MAKANAN. Contoh : ada seorang anak yang bereaksi terhadap apel tetapi anak lainnya mengkonsumsi apel tidak masalah.
  • UNTUK MEMASTIKAN ADANYA REAKSI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DENGAN berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala reaksi makanan sejak bayi dan dengan dengan eliminasi dan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
  • Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Dalam diet sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab hipersensitifitas makanan selama 2-3 minggu, penderita hanya boleh berbagai makanan yang relatif aman. Setelah 3 minggu bila keluhan saluran cerna dan gangguan perilaku berkurang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat dalam buku harian. Disebut sebagai penyebab hipersensitifitas bila dalam 2-3 kali provokasi menimbulkan gejala saluran cerna dan perilaku anak.
  • ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN DAPAT SEBAGAI ALAT DIAGNOSIS DAN SEKALIGUS TERAPI (TERAPI TANPA OBAT)
  • PEMERIKSAAN LAINNYA TIDAK MEMASTIKAN PENYEBAB MAKANAN !!!! :
  • TERDAPAT BERBAGAI PEMERIKSAAN YANG DIKATAKAN DAPAT MENGETAHUI PENYEBAB MAKANAN YANG MENGGANGGU ATAU MENGETAHUI ALERGI MAKANAN. TERNYATA UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB REAKSI SIMPANG MAKANAN BERBAGAI PEMERIKSAAN TERSEBUT AKURASINYA TIDAK TINGGI ATAU MEMPUNYAI SPESIFITAS DAN SENSITIFITAS YANG TIDAK TINGGI, SEHINGGA SERING TERJADI “FALSE NEGATIF” DAN “FALSE POSITIF”. Artinya negatif : belum tentu tidak alergi atau cocok, positif : belum tentu alergi atau tidak cocok.

 

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab reaksi simpang makanan sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih.

CARA ILMIAH :

  1. uji kulit alergi (skin test alergi)
  2. pemeriksaan darah (IgE, RASt)

pemeriksaan ini hanya memastikan adanya bakat alergi atau tidak tetapi tidak bisa memastikan makanan penyebab alergi. Krena tes tersebut memang sangat sensitif tetapi spesifitasnya rendah, TES TERSEBUT KURANG SPESIFIK DALAM MENGENALI REAKSI MAKANAN TIPE LAMBAT, sehingga hasil tes negatif belum tentu makanan tersebut tidak alergi.
PERIKSAAN LAINNYA

  • Pemeriksaan IgG (harus dikirim ke Amerika Serikat), pemeriksaan antibodi Gliadin, lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastra melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan. Pemeriksaan ini tidak terbukti secara ilmiah,
    Pemeriksaan alternative atau ”unproven” untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), Alat Vega (pemeriksaan kulit elektrodermal, bioresonansi, biotensor), Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut, Iridology dan Tes Nadi.
  • PEMERIKSAAN INI SEBENARNYA TIDAK DIREKOMENDASIKAN OLEH BEBERAPA ORGANISASI ALERGI INTERNASIONAL, KARENA TIDAK TERBUKTI SECARA ILMIAH, SELAIN MAHAL JUGA SERING MENYESATKAN.
  • TETAPI FAKTANYA BANYAK PEMERIKSAAN INI MASIH SERING DIPAKAI OLEH KLINISI DAN PARA DOKTER.

FAKTA YANG TERJADI SKIN TEST ATAU RAST (PERIKSA DARAH UNTUK ALERGI) :

  • Seorang penderita autis setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan, banyak didapatkan kemajuan. Tetapi orang tua sempat frustasi karena mendengar berbagai informasi akhirnya berobat ke Singapura. Dengan cekatan tim dokter di sana melakukan pemeriksaan mulai MRI atau CT scan, skin test allergy dan test darah alergi (RAST dan Ig).
  • Kesimpulannya semua normal, advis tim dokter semua boleh makan bebas. Kalau menghindari makanan akan kurang gizi. Tapi apa lajur, 1-2 minggu setelah makan bebas ternyata perilaku anak menjelek lagi, tidur malamnya gelisah lagi, pencernaannya kacau lagi.

FAKTA YANG TERJADI PADA PEMERIKSAAN IgG yang dikirim ke Amerika Serikat (yang saat ini banyak dilakukan penderita autis) :

  1. FAKTA PERTAMA : SEORANG PENDERITA MELAKUKAN PEMERIKSAAN IgG DENGAN DARAH YANG SAMA DAN DALAM WAKTU YANG SAMA KE TIGA TEMPAT DI AMERIKA SERIKAT, HASILNYA : KETIGANYA BERBEDA , kesimpulannya tempat pertama melarang minum susu sapi, tempat ke dua membolehkan minum susu sapi tempat ke tiga boleh minum hanya sedikit. BINGUNG KHAN ?
  2. FAKTA KE DUA : pada usia 15 bulan hasil pemeriksaan IgG di Amerika Serikat menyimpulkan banyak makanan yang dinyatakan negatif dan anak dibolehkan mengkonsumsi semua makanan tersebut, tetapi ternyata 1 tahun kemudian gejala autism semakin memburuk. Setelah dicek ulang usia 21/2 tahun hampir semua makanan dinyatakan alergi. BINGUNG KHAN?

PENANGANAN AUTIS DENGAN PENDEKATAN DIET

  • Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam intervensi makanan pada penderita autis sesuai dengan pengalaman klinis dan wawasan ilmiah tiap klinisi. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani hipersensitivitas makanan pada autis. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab hopersensitivitas makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard” atau ELIMINASI PROVOKASI.
  • Pendekatan diet pada autis terdiri dari berbagai macam, seperti DIET FEINGOLD, DIET ALERGI, DIET ROTASI, DIET BEBAS GLUTEN DAN KASEIN, DIET BEBAS GULA DAN BERBAGAI POLA PENDEKATAN DIET LAINNYA. MANA YANG TERBAIK? SECARA BUKTI ILMIAH MASIH SULIT DIKATAKAN MANA YANG TERBAIK. SEMUA MEMPUNYAI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN.
  • CONTOH : DIET ROTASI : kelemahannya pengaturan diet berdasarkan pemeriksaan darah yang akurasinya tidak tinggi dan belum tentu benar,dan makanan yang mengganggu juga tetap diberikan. DIET FEINGOLD : kelemahan hanya menghindari zat pengawet dan zat warna, tidak memperhatikan alergi makanan.
  • DIET ALERGI MAKANAN : kelemahan dasarnya tes kulit dan darah belum memastikan dan tidak memperhitungkan intolransi makanan lainnya seperti gluten dan zat warna (gluten dan zat warna bukan reaksi alergi). DIET BEBAS GLUTEN DAN CASEIN : kelemahan tidak mempertimbangkan alergi makanan dan intoleransi makanan lainnya.

 

  • POLA PENDEKATAN DIET YANG PALING IDEAL TAMPAKNYA ADALAH DENGAN MENGIDENTIFIKASI SECARA PASTI SEMUA MAKANAN YANG BERPOTENSI MENGGANGGU SALURAN CERNA BAIK UNTUK ALERGI MAKANAN, INTOLERANSI MAKANAN, CELIAC ATAU REAKSI HIPERSENSITIFITAS LAINNYA.
  • PENANGANAN SEPERTI ITU TIDAK ADA CARA LAIN KECUALI DENGAN MENGGUNAKAN “ELIMINASI PROVOKASI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” YANG BERTUJUAN MENCARI SATU PERSATU DENGAN CERMAT DAN TELITI MELALUI BUKU HARIAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU (TRIAL AND ERROR).
    ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH MAKAN MAKANAN TERTENTU SETERUSNYA, TETAPI SUATU ALAT DIAGNOSIS UNTUK MENGIDENTIFIKASI MAKANAN YANG MENGGANGGU DAN MAKANAN YANG AMAN SECARA BERTAHAP.
  • Penanganan autism dengan disertai adanya hipersensitivitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi makanan. Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Pemberian obat anti alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti terdapat kegagalan dalam mengendalikan penyebab hipersensitifitas makanan.

KURANG GIZIKAH BILA MELAKUKAN ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN

  • Memang beberapa makanan yang sering mengganggu mempunyai kadar gizi yang baik. Banyak orangtua dan sebagian klinisi kawatir resiko kekurangan gizi pada anak autis. Kekawatiran tersebut tidak perlu terjadi karena semua makanan yang dihindari ada pengganti makanan yang juga tak kalah gizinya.
  • Misalnya : udang, cumi diganti ikan air tawar atau salmon, telor diganti daging sapi, susu sapi diganti susu kedelai atau susu beras. Bahkan bila mengkonsumsi makanan yang aman gangguan saluran cerna akan membaik maka nafsu makan akan membaik sehingga berat badan justru malah bertambah.

    ”EVEN THE BEST FOOD CAN MAKE YOUR CHILDREN SICK”.

    PILIH MANA MAKAN ENAK ATAU ANAK SAKIT ? ANDA YANG MENENTUKAN,TAPIJANGAN KORBANKAN ANAK.

BAGAIMANA MENYIKAPI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS

  • KONTROVERSI DI BIDANG MEDIS ADALAH HAL BIASA KHUSUSNYA DALAM MELAKUKAN PENDEKATAN TERHADAP PENGOBATAN SUATU PENYAKIT, TERGANTUNG PENGALAMAN KLINIS, WAWASAN ILMIAH DAN PENELITIAN YANG DILAKUKAN SANG KLINISI ATAU DOKTER. DEMIKIAN PULA KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET PADA PASIEN AUTIS.
  • Satu dokter membolehkan makan semua makanan yang bergizi pada anak autis, dokter lainnya melarang semua makanan, sedangkan dokter lainnya melakukan dengan cermat dan teliti makanan mana yang boleh dan tidak. Hal inilah sering menjadi orangtua bingung harus mengikuti yang mana.
  • Bila ini terjadi orang tua bisa membuka wawasan dengan melihat internet dengan membuka fakta ilmiah penelitian yang ada baik di Indonesia (meskipun sangat minim) dan di luar negeri. Atau, melakukan sharing dengan orangtua lainnya setelah melakukan pendekatan diet yang ideal (dengan elminasi provokasi bukan dengan pola diet lainnya seperti rotasi dll), ATAU kemudian melakukan sendiri terhadap anaknya dengan melakukan pendekatan eliminasi provokasi.
  • SETELAH MENGALAMI SENDIRI MUNGKIN KITA BARU PERCAYA FAKTA, BAHWA MEMANG BEBERAPA MAKANAN SANGAT JAHAT DAN SELAMA INI MENGGANGGU ANAK KITA.

APAKAH HARUS DIET SEUMUR HIDUP

  • Bila dalam proses eliminasi provokasi ditemukan makanan yang mengganggu maka penderita harus menunda atau menghindari makanan tersebut sementara. Kenapa hanya sementara karena dengan pertambahan usia sensitif tersebut bisa berkurang.
    Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi hipersenitifitas makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 – 7 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena hipersensifitas makanan juga secara bertahap akan ikut berkurang. Bila gangguan fungsi saluran cerna akan membaik maka biasanya gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang.
  • Perbaikan gejala hipersensitifitas makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa gejala autis biasanya akan tampak mulai berkurang sejak periode usia di atas 2-7 tahun. Meskipun hipersensitivitas makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, coklat, kepiting atau kacang tanah.

END POINT

  • Permasalahan gangguan saluran cerna pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak dan perilaku pada anak. Pengaruh hipersensitifitas makanan ke otak tersebut ternyata sebagai salah satu faktor yang memperberat penyakit Autis.
  • KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET SERING TERJADI. SETELAH MENGALAMI SENDIRI KITA HARUS PERCAYA FAKTA INI, BUKAN PERCAYA YANG LAIN BAHWA MEMANG MAKANAN TERSEBUT SELAMA INI JAHAT DAN MENGGANGGUN ANAK KITA.
  • Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autis. Diagnosis pasti hipersensitifitas makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan.
    Penanganan terbaik pada penderita hipersensitifitas makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan ensim, obat alergi dan sejenisnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala gastrointestinal food hypersensitivity dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.
  • SEBENARNYA UNTUK MENDIAGNOSIS AUTIS TIDAK MEMERLUKAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM DENGAN BIAYA YANG SANGAT BESAR DAN PEMERIKSAAN ITU TIDAK BISA MEMASTIKAN MENCARI PENYEBAB MAKANAN. YANG UTAMA ADALAH DIAGNOSIS KLINIS ATAU KEJELIAN DOKTER DALAM MENILAI RAWAYAT DAN PENAMPILAN PERILAKU PASIEN.
  • Dengan melakukan deteksi gejala saluran cerna dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini maka pengaruh hipersensitivitas makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan saluran cerna dan autism sejak dini.
  • SECARA JANGKA PANJANG KITA HARUS MENCERMATI DAN MEMINIMALKAN GANGGUAN SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTIS. BILA HAL TERSEBUT CERMAT DILAKUKAN BERARTI DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERILAKU PADA AUTIS SECARA JANGKA PANJANG. AWASI KELUHAN GANGGUAN SALURAN CERNA DAN AMATI CERMAT POLA FESES ANAK.
  • JANGAN ANGGAP REMEH GANGGUAN SALURAN CERNA, HARUS DI DETEKSI DAN DIMINIMALKAN SEJAK DINI. GANGGUAN INI TERNYATA JUGA DAPAT MENINGKATKAN GANGGUAN PERILAKU PADA PENDERITA AUTIS DAN NON-AUTIS. MESKIPUN GANGGUAN YANG TERJADI PADA PENDERITA NON-AUTIS TIDAK LEBIH BERAT.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut3. Croen LA, Grether JK, Yoshika CK, Odouly R, Van der Water J. Maternal auto-immune diseases, asthma and allergies, and childhood autism spectrum disorders. Arch Paediatr Adolesc Med 2005;159:151-157.4. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual.5. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156.6. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-147. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-718. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-339. Banov CH.Risks with controlling diet. J Autism Dev Disord. 1979 Mar;9(1):135-610. Murch S.Diet, immunity, and autistic spectrum disorders. J Pediatr. 2005 May;146(5):582-4. Review.11. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-212. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3.13. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-61314. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177.15. Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41.16. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37.17. Valicenti-McDermott M, McVicar K, Rapin I, Wershil BK, Cohen H, Shinnar S. Frequency of gastrointestinal symptoms in children with autistic spectrum disorders and association with family history of autoimmune disease. J Dev Behav Pediatr. 2006 Apr;27(2 Suppl):S128-3618. Vojdani A, O’Bryan T, Green JA, Mccandless J, Woeller KN, Vojdani E, Nourian AA, Cooper EL.Immune response to dietary proteins, gliadin and cerebellar peptides in children with autism. Nutr Neurosci. 2004 Jun;7(3):151-6119. Vojdani A, Pangborn JB, Vojdani E, Cooper ELInfections, toxic chemicals and dietary peptides binding to lymphocyte receptors and tissue enzymes are major instigators of autoimmunity in autism. Int J Immunopathol Pharmacol. 2003 Sep-Dec;16(3):189-99.20. Knivsberg AM, Reichelt KL, Høien T, Nødland M. A randomised, controlled study of dietary intervention in autistic syndromes Nutr Neurosci. 2002 Sep;5(4):251-6121. Wakefield AJ, Ashwood P, Limb K, Anthony A.The significance of ileo-colonic lymphoid nodular hyperplasia in children with autistic spectrum disorder. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2005 Aug;17(8):827-36.22. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775.23. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81.24. Judarwanto W. Dietery Intervention for treatment in Autism with gastrointestinal food Hypersensitivity, (unpublished)25. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103.26. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90.27. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-528. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.29. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.30. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.31. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.32. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.33. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.34. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.200335. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.36. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child37. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500. D’Eufemia, P., Cellis, M. Finocchiaro, R., Pacifico, L., Viozzi, L., Zaccagnini, M., Cardi, E., Giardini, O. (1996) “Abnormal Intestinal Permeability in Children with Autism,” Acta Paediatrica, 85:1076-1079.38. Gillberg, C. (1988) “The role of endogenous opioids in autism and possible relationships to clinical features” in Wing, L. (ed.) Aspects of Autism: Biological Research. Gaskell:London, pp. 31-37.39. Knivsberg A-M et al. (1990) “Dietary intervention in autistic syndromes,” Brain Dysfunction, 3:315- 27.40. Reichelt, L.L., Lind, G., Nodland, M. (1991) “Probable Etiology and Possible Treatment of Childhood Autism,” Brain Dysfunction, 4 (6) 308-319.41. O’Reilly, B. A. and R.H. Waring (1990) “Enzyme and Sulfur Oxidation Deficiencies in Autistic Children with Known Food/Chemical Intolerances,” Xenobiotica, 20:117-12242. Panksepp, J. (1979) “A neurochemical theory of autism.” Trends in Neuroscience, 2: 174-177.43. Reichelt, K.L., et. al. (1981) “Biologically Active Peptide-Containing Fractions in Schizophrenia and Childhood Autism.” Adv. Biochem. Psychopharmacol., 28:627-643.44. Shattock, P., Kennedy, A., Rowell, F., Berney, T.P. (1990) “Proteins, Peptides and Autism. Part 2: Implications for the Education and Care of People with Autism.” Brain Dysfunction, 3 (5) 323-334,45. Lowdon (1991) “Proteins, Peptides and Autism; Part 2: Implications for the Education and Care of People With Autism,” Brain Dysfunction, 4:323-334.46. Kidd PM An approach to the nutritional management of autism. Altern Ther Health Med. 2003 Sep-Oct;9(5):22-31; quiz 32, 126. Review.47. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J.Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr. 1978 Sep;8(3):325-37.48. Zeisel SH Dietary influences on neurotransmission. Adv Pediatr. 1986;33:23-47. Review.49. Jyonouchi H, Geng L, Ruby A, Zimmerman-Bier B. Dysregulated innate immune responses in young children with autism spectrum disorders: their relationship to gastrointestinal symptoms and dietary intervention.50. Singh VK, Fudenburg HH, Emerson D, Coleman M. Immunodiagnosis and immunotherapy in autistic children. Ann NY Acad Sci 1988;540: 602 604.51. Vojdani A, Campbell AW, Anyanwu E, Kashanian A, Bock K, Vojdani E. Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross-reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002; 129:168-7752. Minshew NJ. Brief report: brain mechanisms in autism. functional and structural abnormalities. J Autism Dev Disord 1996;26: 205 209.53. Horvath K, Papadimitriou JC, Rabsztyn A, Drachenberg C, Tildon JT. Gastrointestinal abnormalities in children with autistic disorder. J Pediatr 1999 1988;135: 559 563.54.getSFXLink(‘%253Fsid%253Dblackwell%253Asynergy%2526genre%253Darticle%2526aulast%253DShattock%2526aufirst%253DP..%2BIn%253A%2B%2526aulast%253DWing%2526aufirst%253DR%2526date%253D1988%2526spage%253D1′, ‘b95′)Pavone L, Fiumara A, Bottaro G, Mazzone D, Coleman M. Autism and celiac disease: failure to validate the hypothesis that a link might exist. Biol Biol Psychiatry 1997;42: 72 75.

 

Supported by

CLINIC FOR CHILDREN

Office : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : (021) 70081995 – 5703646

www.childrenclinic.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

phone : 62(021) 70081995 – 62(021) 5703646, mobile : 0817171764

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For children Information Education Network. All rights reserved.

ALERGI MAKANAN, DIET DAN AUTISM

ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM TETAPI SEBAGAI PEMICU ATAU MEMPERBERAT AUTISM

Dr Widodo Judarwanto SpA

Dipresentasikan pada seminar AUTISM UPDATE DI HOTEL NOVOTEL Jakarta tanggal 9 September 2005

ABSTRAK

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi tampaknya dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak dan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hiperaktif (ADHD) hingga memperberat gejala Autisme.
Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku pada autisme dapat dikurangi.
Deteksi gejala alergi dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini pada anak harus dilakukan. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap autisme atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan alergi dan autisme sejak dini.

1. PENDAHULUAN
Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang
Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autisme.
Autisme dan berbagai spektrum gejalanya adalah gangguan perilaku anak yang paling banyak diperhatikan dan kasusnya ada kecenderungan meningkat dalam waktu terakhir ini. Autisme diyakini beberapa peneliti sebagai kelainan anatomis pada otak secara genetik. Terdapat beberapa hal yang dapat memicu timbulnya autism tersebut, termasuk pengaruh makanan atau alergi makanan.
Pemeriksaan untuk mencari penyebab alergi makanan sangat beragam dilakukan oleh beberapa klinisi. Meskipun sebenarnya “gold standard” atau standar baku untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge = DBPCFC). Sehingga banyak kasus penderita alergi makanan, menghindari makanan penyebab alergi makanan berdasarkan banyak pemeriksaan penunjang hasilnya tidak optimal. Akhirnya gejala alergi dan komplikasi yang terjadi termasuk gangguan perilaku khususnya autisme seringkali sulit diminimalkan.

2.ALERGI MAKANAN

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.
Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.

Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan.
Reaksi simpang makanan (Adverse food reactions)
Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap alergi makanan atau intoleransi makanan.
Alergi makanan (Food Allergy)
Alergi makanan adalah reaksi imunologis (kekebalan tubuh) yang menyimpang karena masuknya bahan penyebnab alergi dalam tubuh. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1.
Intoleransi Makanan (Food intolerance)
Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi lactase, maltase atau respon idiosinkrasi pada pejamu.
Menurut cepat timbulnya reaksi maka alergi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan alergi. Reaksi Lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah makan bahan penyebab alergi.

3. MEKANISME TERJADINYA ALERGI MAKANAN
Struktur limfoepiteal usus yang dikenal dengan istilah GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissues) terdiri dari tonsil, patch payer, apendiks, patch sekal dan patch koloni. Pada keadaan khusus GALT mempunyai kemampuan untuk mengembangkan respon lokal bersamaan dengan kemampuan untuk menekan induksi respon sistemik terhadap antigen yang sama.
Pada keadaan normal penyerapan makanan,merupakan peristiwa alami sehari-hari dalam sistem pencernaan manusia. Faktor-faktor dalam lumen intestinal (usus), permukaan epitel (dinding usus) dan dalam lamina propia bekerja bersama untuk membatasi masuknya benda asing ke dalam tubuh melalui saluran cerna. Sejumlah mekanisme non imunologis dan imunologis bekerja untuik mencegah penetrasi benda asing seperti bakteri, virus, parasit dan protein penyebab alergi makanan ke dinding batas usus (sawar usus).

Pada paparan awal, alergen maknan akan dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya mengekspresikan pada sel-T secara langsung atau melalui sitokin. Sel T tersensitisasi dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. Alergen yang intak akan diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan orgalimfoid usus. Pada umumnya anak-anak membentuk antibodi dengan subtipe IgG, IgA dan IgM. Pada anak atopi terdapat kecenderungan lebih banyak membentuk IgE, selanjutnya mengadakan sensitisasi sel mast pada saluran cerna, saluran napas, kulit dan banyak oragan tubuh lainnya. Sel epitel intestinal memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan dan pola pengambilan antigen yang tertelan. Selama terjadinya reaksi yang dihantarkan IgE pada saluran cerna, kecepatan dan jumlah benda asing yang terserap meningkat. Benda asing yang larut di dalam lumen usus diambil dan dipersembahkan terutama oleh sel epitel saluran cerna dengan akibat terjadi supresi (penekanan) sistem imun atau dikenal dengan istilah toleransi. Antigen yang tidak larut, bakteri usus, virus dan parasit utuh diambil oleh sel M (sel epitel khusus yang melapisi patch peyeri) dengan hasil terjadi imunitas aktif dan pembentukan IgA. Ingesti protein diet secara normal mengaktifkan sel supresor TCD8+ yang terletak di jaringan limfoid usus dan setelah ingesti antigen berlangsung cukup lama. Sel tersebiut terletak di limpa. Aktivasi awal sel-sel tersebut tergantung pada sifat, dosis dan seringnya paparan antigen, umur host dan kemungkinan adanya lipopolisakarida yang dihasilkan oleh flora intestinal dari host. Faktor-faktor yang menyebabkan absorpsi antigen patologis adalah digesti intraluminal menurun, sawar mukosa terganggu dan penurunan produksi IgA oleh sel plasma pada lamina propia.

FAKTOR GENETIK
Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Bila ada orang tua menderita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 20 – 40%, ke dua orang tua alergi resiko meningkat menjadi 40 – 80%. Sedangkan bila tidak ada riwayat alergi pada kedua orang tua maka resikonya adalah 5 – 15%. Pada kasus terakhir ini bisa saja terjadi bila nenek, kakek atau saudara dekat orang tuanya mengalami alergi. Bisa saja gejala alergi pada saat anak timbul, setelah menginjak usia dewasa akan banyak berkurang.

IMATURITAS USUS
Alergi makanan sering terjadi pada usia anak dibandingkan pada usia dewasa. Fenomena lain adalah bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami alergi makanan tetapi dalam pertambahan usia membaik. Hal itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna pada anak.
Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur (tidak matang) sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Pada bayi baru lahir sel yang mengandung IgA, Imunoglobulin utama di sekresi eksternal, jarana ditemui di saluran cerna. Dalam pertambahan usia akan meningkat sesuai dengan maturasi (kematangan) sistem kekebalan tubuh.
Dilaporkan persentasi sampel serum yang mengandung antibodi terhadap makanan lebih besar pada bayi berumur kurang 3 bulan dibandingkan dengan bayi yang terpapar antigen setelah usia 3 bulan. Penelitian lain terhadap 480 anak yang diikuti secara prospektif dari lahir sampai usia 3 tahun. Sebagian besar reaksi makanan terjadi selama tahun pertama kehidupan.

PAJANAN ALERGI
Pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, telur dan susu. Pajanan juga terjadi pada masa bayi. Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama kehidupan. Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi ibu akan sangat berpengaruh pada anak yang mempunyai bakat alergi. Pemberian PASI meningkatkan angka kejadian alergi

4. PENYEBAB DAN PENCETUS ALERGI MAKANAN
Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier. Perlakuan fisik misalnya pemberian panas dan tekanan dapat mengurangi imunogenisitas sampai derajat tertentu. Pada pemurnian ditemukan allergen yang disebut sebagai Peanut-1 suatu glikoprotein dengan berat molekul 180.000 dalton. Pemurnian pada udang didapatkan allergen-1 dan allergen-2 masing-masing dengan berat molekul 21.000 dalton dan 200.000 dalton. Pada pemurnian alergen pada ikan diketahui allergen-M sebagai determinan walau jumlahnya tidak banyak. Ovomukoid ditemukan sebagai alergen utama pada telur.

Pada susu sapi yang merupakan alergen utama adalah Betalaktoglobulin (BLG), Alflalaktalbumin (ALA), Bovin FERUM Albumin (BSA) dan Bovin Gama Globulin (BGG). Albumin, pseudoglobulin dan euglobulin adalah alergen utama pada gandul. Diantaranya BLG adalah alergen yang paling kuat sebagai penyabab alergi makanan. Protein kacang tanah alergen yang paling utama adalah arachin dan conarachi.
Beberapa makanan yang berbeda kadang menimbulkan gejala alergi yang berbeda pula, misalnya pada alergi ikan laut menimbulkan gangguan kulit berupa urtikaria, kacang tanah menimbulkan gangguan kulit berupa papula (bintik kecil seperti digigit serangga) atau furunkel (bisul). Sedangkan buah-buahan menimbulkan gangguan batuk atau pencernaan. Hal ini juga tergantung dengan organ yang sensitif pada tiap individu. Meskipun demikian ada beberapa pakar alergi makanan yang berpendapat bahwa jenis makanan tidak spesifik menimbulkan gejala tertentu.
Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan. Hal ini ditunjukkan pada seorang penderita autisme yang mengalami infeksi saluran napas, biasanya gejala alergi akan meningkat. Selanjutnya akan berakibat meningkatkan gangguan perilaku pada penderita. Fenomena ini sering dianggap penyebabnya adalah karena pengaruh obat.

Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Tanpa paparan alergi maka faktor pencetus tidak akan terjadi. Bila anak mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul.
Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila anak mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin pada anak adalah tidak sepenuhnya benar.

5. GEJALA ALERGI MAKANAN
Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga autism.
Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya diare selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Bagaimana keluhan yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar organ sasaran pada organ tubuh.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA ANAK

  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • TANDA LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

    GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA ANAK
    (ALERGI DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN OTAK/PERILAKU ATAU “BRAIN ALLERGY” – CEREBRAL ALLERGY
    )

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,,mimpi buruk, “beradu gigi”
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • Memperberat gejala AUTIS dan ADHD
5. HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN AUTISME
Autism adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autism hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autisme. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa Autisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan autism dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi alergi.
Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan autism berkaitan erat dengan alergi. Menage P tahun 1992 mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE dengan penderita Autism. Obanion dkk, tahun 1987 melaporkan setelah melakukan eliminasi makanan beberapa gejala autisme dan autisme infantil tampak membaik secara bermakna. Lucarelli dkk, tahun 1995 juga telah melakukan penelitian dengan eliminasi diet didapatkan perbaikkan pada penderita autisme infantil. Didapatkan juga IgA antigen antibodi specifik terhadap kasein, lactalbumin atau beta-lactoglobulin dan IgG, IgM terhadap kasein Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan adanya perbaikan gejala pada anak autism yang menderita alergi, setelah dilakukan penanganan elimnasi diet alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala autism semakin buruk bila manifestasi alergi itu timbul. Penelitian yang dilakukan Vodjani dkk, tahun 2002 menemukan adanya beberapa macam antibody terhadap antigen spesifik neuron pada anak autisme, diduga terjadi reaksi silang dengan protein ensefalitogenik dari susu sapi., Chlamydia pnemoniae dan streptococcus group A.
Penderita Autisme disertai alergi makanan sering mengalami gangguan sistem imun. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya. Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri. Hal ini mengakibatkan penderita autisme sering mengalami gangguan infeksi jamur (candidiasis), infeksi saluran napas dan mudah terkena penyakit infeksi lainnya secara berulang.

6. MEKANISME TERJADINYA PENGARUH ALERGI TERHADAP AUTISME

Mekanisme bagaimana alergi mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi

A. ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN.
Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain dan lainnya.
Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

B. TEORI METABOLISME SULFAT
Seperti pada penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

C. TEORI PENCERNAAN DAN PERUT (ENTERIC NERVOUS SYSTEM DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY)
Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :

KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE
Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.

TEORI PELEPASAN OPIOID
Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.

TEORI ABDOMINAL EPILEPSI
Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.

D. TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI
Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah,

Seperti tampak pada gambar 1, pada penderita alergi didapatkan penurunan hormon kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan hormon kortisol dapat menyebabkan allergy fatigue stresse (kelelahan atau lemas)., sedangkan penurunan hormon metabolik dapat mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna. Hormon lain yang menurun adalah hormon esterogen. Alergi juga dikaitkan dengan peningkatan hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.

7. PENATALAKSANAAN
Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab alergi sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih. Diantaranya adalah uji kulit alergi, pemeriksaan darah (IgE, RASt dan IgG), Pemeriksaan lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastral melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan.

Selain itu terdapat juga pemeriksaan alternative untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), Alat Vega (pemeriksaan kulit elektrodermal), Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut, Iridology dan Tes Nadi. PEMERIKSAAN INI ADALAH JENIS PEMERIKSAAN UNCONVENSIONAL Aatau TIDAK TERBUKTI SECARA ILMIAH sehingga INSTITUSI ALERGI INTERNASIONAL (seperti ASCIA (autralia), AAAI (Amerika)<>
Diagnosis pasti alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya dengan tes alergi baik tes kulit, RAST, Immunoglobulin G atau pemeriksaan alergi lainnya. Pemeriksaan tersebut mempunyai keterbatasan dalam sensitifitas dan spesifitas, Sehingga menghindari makanan penyebab alergi atas dasar tes alergi tersebut seringkali tidak menunjukkan hasil yang optimal.
Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut. Children Family Clinic Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Dalam diet sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab alergi selama 2-3 minggu. Setelah 3 minggu bila keluhan alergi dan gangguan perilaku menghilang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala.
Penanganan alergi makanan dengan gangguan Spektrum Autisme harus dilakukan secara holistik. Beberapa disiplin ilmu kesehatan anak yang berkaitan harus dilibatkan. Bila perlu harus melibatkan bidang Neurologi anak, Psikiater anak, Tumbuh Kembang anak, Endokrinologi anak, Alergi anak, Gastroenterologi anak dan lainnya. Seringkali pendapat dari beberapa ahli tersebut bertentangan sedangkan manifestasi alergi lainnya jelas pada anak tersebut. Maka tidak ada salahnya kita lakukan penatalaksanaan alergi makanan dengan “eliminasi terbuka”. Eliminasi makanan tersebut dievaluasi setelah 3 minggu dengan memakai catatan harian. Bila gejala dan gangguan perilaku penderita Autism tersebut terdapat perbaikkan maka dapat dipastikan bahwa gangguan tersebut dapat diperberat atau dicetuskan oleh alergi makanan. Selanjutnya dilakukan eliminasi provokasi untuk mencari penyebab alergi makanan tersebut satu persatu.
Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam penanganan alergi makanan sesuai dengan pengalaman klinis tiap ahli atau peneliti. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani alergi makanan dan autisme. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab alergi makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard”.
Penanganan autisme dengan disertai adanya alergi makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi makanan. Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Pemberian obat anti alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti terdapat kegagalan dalam mengendalikan penyebab alergi makanan.
8. PROGNOSIS
Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi alergi makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena alergi makanan juga akan ikut berkurang. Bila gangguan saluran cerna akan membaik maka biasanya gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang. Selanjutnya pada usia di atas 5 atau 7 tahun alergi makananpun akan berkurang secara bertahap. Perbaikan gejala alergi makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa gejala autismepun biasanya akan tampak mulai berkurang sejak periode usia tersebut. Meskipun alergi makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, kepiting atau kacang tanah.
9. PENUTUP
Permasalahan alergi pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak dan perilaku pada anak. Pengaruh alergi makanan ke otak tersebut adalah sebagai salah satu faktor pemicu dalam memperberat penyakit Autisme.
Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autisme. Diagnosis pasti alergi makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan. Selain mengidentifikasi penyebab alergi makanan, penderita harus mengenali pemicu alergi.
Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.

Dengan melakukan deteksi gejala alergi dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini maka pengaruh alergi terhadap autisme atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan alergi dan autisme sejak dini.

10. DAFTAR PUSTAKA

1. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut
3. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual.
4. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156.
5. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14
6. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-71
7. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33
8. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2
9. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3.
10. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613
11. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177.
12.
Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41.
13. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37.
14. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775.
15. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81.
16. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103.
17. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90.
18. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5
19. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.
20. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.
21. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
22. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.
23. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
24. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
25. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
26. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
27. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
28. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.

SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.

Supported by

CLINIC FOR CHILDREN

Office : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

Phone : (021) 70081995 – 5703646

www.childrenclinic.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO

Address : JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

phone : 62(021) 70081995 – 62(021) 5703646, mobile : 0817171764

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For children Information Education Network. All rights reserved.